Penelitian Ungkap Siklus Menstruasi Dapat Mengubah Struktur Otak

  • 21 Mei 2026 13:32 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Banyak perempuan sering kali mengeluhkan perubahan suasana hati yang drastis secara tiba-tiba menjelang masa menstruasi mereka. Fenomena naik-turunnya emosi yang kerap mengganggu aktivitas harian ini ternyata berkaitan erat dengan perubahan fisik di dalam otak.

Penelitian terbaru yang dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa siklus menstruasi tidak hanya memengaruhi kondisi fisik perempuan, tetapi juga dapat mengubah struktur otak. Perubahan hormon selama siklus bulanan disebut berpengaruh pada area otak yang berkaitan dengan emosi, memori, hingga proses berpikir.

Banyak perempuan merasakan perubahan suasana hati menjelang maupun saat menstruasi berlangsung. Kondisi tersebut sering disebut sebagai "period brain", yakni keadaan ketika seseorang menjadi lebih sensitif, mudah emosional, atau sulit berkonsentrasi.

Para ilmuwan kini mulai memahami bahwa perubahan tersebut mungkin berkaitan dengan aktivitas hormon estrogen dan progesteron di dalam otak. Kedua hormon itu mengalami kenaikan dan penurunan selama siklus menstruasi yang rata-rata berlangsung sekitar 29 hari.

Penelitian menggunakan pemindaian MRI menemukan bahwa beberapa bagian otak perempuan mengalami perubahan ketebalan dan volume selama siklus berlangsung. Area yang mengalami perubahan terutama berkaitan dengan pengaturan emosi, kemampuan mengingat, dan proses pengiriman informasi di dalam otak.

Tim peneliti dari Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences melakukan pemindaian otak terhadap puluhan perempuan pada beberapa fase menstruasi berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa bagian hippocampus, wilayah otak yang berperan penting dalam memori dan pembelajaran, mengalami perubahan mengikuti fluktuasi hormon.

Ketika kadar estrogen meningkat, lapisan luar hippocampus diketahui menjadi lebih tebal dan materi abu-abu di otak ikut berkembang. Sebaliknya, saat hormon progesteron meningkat, bagian otak yang berkaitan dengan memori menunjukkan perubahan yang berbeda.

Penelitian lain dari University of California Santa Barbara juga menemukan adanya perubahan pada materi putih otak. Bagian ini berfungsi menghubungkan berbagai wilayah otak sehingga proses pertukaran informasi menjadi lebih efisien.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan struktur otak tersebut belum tentu berdampak langsung pada kecerdasan atau daya ingat seseorang. Hingga kini, belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa ukuran otak yang berubah otomatis membuat fungsi otak menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Penelitian tersebut juga belum memastikan hubungan antara perubahan struktur otak dengan gejala emosional yang dialami perempuan saat menstruasi. Sebab, penelitian dilakukan pada perempuan sehat yang tidak memiliki gangguan psikologis atau keluhan berat selama siklus menstruasi.

Para ahli menilai temuan ini menjadi langkah penting dalam memahami kesehatan otak perempuan yang selama ini masih kurang diteliti. Mereka berharap penelitian lanjutan dapat membantu menjelaskan hubungan antara hormon, emosi, dan fungsi otak secara lebih mendalam.

Selain itu, hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam dunia kesehatan dan neurologi perempuan. Pemahaman yang lebih baik mengenai pengaruh hormon terhadap otak diharapkan dapat membantu penanganan masalah kesehatan mental maupun gangguan neurologis pada perempuan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....