Mengapa Konsumsi Makanan Ultra-Proses Perlu Dibatasi pada Anak?

  • 17 Jun 2026 11:29 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) semakin akrab dalam pola makan anak-anak. Mulai dari camilan kemasan, minuman manis, makanan cepat saji, hingga berbagai produk siap santap sering menjadi pilihan karena praktis dan mudah didapat.

Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal The American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa konsumsi UPF yang tinggi sejak masa bayi hingga usia enam tahun berkaitan dengan volume yang lebih kecil pada beberapa bagian otak anak. Temuan tersebut berasal dari studi prospektif berjudul Early-life Cumulative Intake of Ultraprocessed Foods and Subcortical Brain Volume at Age 6 y: A Prospective Cohort Study.

Penelitian dilakukan dengan memantau pola makan anak sejak usia enam bulan hingga enam tahun. Para peneliti kemudian menggunakan pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk melihat struktur otak anak saat mencapai usia enam tahun.

Dalam penelitian tersebut, UPF yang diamati mencakup berbagai produk pangan industri yang mengalami banyak tahapan pengolahan. Kelompok makanan ini antara lain makanan cepat saji, minuman berpemanis, camilan kemasan, sereal tinggi gula, makanan siap saji, serta produk yang mengandung banyak bahan tambahan seperti perisa, pewarna, pemanis, dan pengawet.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dengan konsumsi UPF yang lebih tinggi cenderung memiliki volume lebih kecil pada beberapa struktur otak subkortikal. Bagian yang terdampak meliputi nucleus accumbens, amigdala kiri, pallidum kanan dan kiri, putamen kiri, serta talamus kanan dan kiri.

Para peneliti menjelaskan bahwa bagian-bagian otak tersebut memiliki fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Nucleus accumbens berperan dalam sistem penghargaan (reward system) yang mempengaruhi rasa senang dan kepuasan. Area ini juga berhubungan dengan perilaku makan dan kecenderungan seseorang mencari makanan yang dianggap menyenangkan.

Sementara itu, amigdala berfungsi membantu mengatur dan memproses emosi, termasuk rasa takut, cemas, serta respons terhadap stres. Bagian ini berperan penting dalam perkembangan kemampuan emosional anak selama masa pertumbuhan.

Penelitian juga menemukan keterkaitan pada pallidum dan putamen, dua struktur otak yang berhubungan dengan motivasi, pembentukan kebiasaan, serta pengendalian perilaku. Selain itu, talamus yang berfungsi sebagai pusat penghubung informasi sensorik dan motorik juga termasuk bagian yang menunjukkan volume lebih kecil pada kelompok dengan konsumsi UPF tinggi.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan penyusutan volume otak. Faktor lain seperti pola hidup, lingkungan, dan kondisi kesehatan juga dapat berperan dalam perkembangan otak anak.

Temuan ini menambah bukti pentingnya pola makan sehat sejak usia dini. Para ahli menyarankan agar konsumsi makanan segar dan minim proses seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, ikan, telur, dan sumber protein alami lebih diutamakan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....