Teknologi Virtual Reality Membantu Penderita Hoarding Disorder

  • 15 Jun 2026 20:48 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor: Gangguan menimbun barang atau hoarding disorder kini dapat ditangani secara inovatif menggunakan teknologi virtual reality (VR). Inovasi medis ini dirancang untuk membantu para penderita mengevaluasi barang simpanan mereka sekaligus membersihkan tempat tinggal mereka secara virtual.

Gangguan menimbun barang merupakan kondisi psikologis yang membuat seseorang kesulitan membuang atau melepaskan barang miliknya, meskipun benda tersebut tidak lagi memiliki fungsi yang jelas. Akibatnya, rumah menjadi penuh sesak sehingga mengganggu kenyamanan, keselamatan, dan kualitas hidup penghuninya.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Peneliti dair Stanford University mengembangkan metode terapi berbasis realitas virtual untuk membantu pasien berlatih memilah dan membuang barang-barang yang mereka anggap berharga. Melalui simulasi tersebut, pasien dapat merasakan proses merapikan rumah tanpa harus langsung melakukannya di dunia nyata.

Melalui penelitian terbaru ini, para pasien diminta menggunakan perangkat kacamata VR dan pengendali genggam khusus selama proses terapi. Teknologi ini memungkinkan mereka mensimulasikan aktivitas membuang barang berharga di dalam model digital dari rumah mereka sendiri.

Model tiga dimensi ini dibuat secara akurat menggunakan foto-foto asli dari kondisi ruangan serta barang milik pasien. Pendekatan personal tersebut membuat pasien dapat merasakan pengalaman emosional yang nyata saat belajar merelakan barang mereka.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa mayoritas peserta merasakan peningkatan motivasi untuk membuang barang di dunia nyata. Pencapaian ini sangat menjanjikan mengingat riset tersebut berfokus pada kelompok lansia yang paling rentan terhadap gangguan ini.

Secara umum, gangguan jiwa ini diderita oleh sebagian kecil populasi masyarakat di berbagai belahan dunia. Namun, persentase pengidapnya dapat meningkat hingga dua kali lipat seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

Terapi berbasis VR ini juga dinilai berhasil mengatasi hambatan logistik antara pasien dan tenaga medis profesional. Selama ini, terapis sering kali kesulitan melakukan kunjungan langsung karena penolakan pasien atau keterbatasan jarak geografis.

Kehadiran teknologi virtual ini mengeliminasi rasa malu pasien karena rumah mereka tidak perlu dikunjungi orang lain. Keunggulan tersebut menjadi sebuah kemajuan besar dalam lanskap pengobatan gangguan kejiwaan yang kompleks ini.

Hoarding disorder sendiri baru diakui secara resmi sebagai gangguan psikiatrik pada tahun dua ribu tiga belas silam. Gangguan ini sering kali berkaitan erat dengan kecemasan berlebih dan sifat obsesif kompulsif pada diri seseorang.

Banyak penderita tidak menyadari perilaku menyimpang mereka hingga akhirnya memicu konflik dengan anggota keluarga terdekat. Akumulasi barang yang parah biasanya mulai mengganggu fungsi ruang rumah seperti area dapur dan tempat tidur.

Selain pemanfaatan teknologi VR, pengobatan gangguan ini juga dapat dilakukan melalui terapi perilaku kognitif yang intensif. Metode psikoterapi tersebut terbukti efektif melatih pasien dalam mengendalikan dorongan serta perilaku impulsif mereka.

Dukungan penuh dari anggota keluarga juga memegang peranan krusial untuk mencegah barang baru masuk ke rumah. Proses penyembuhan ini membutuhkan kesabaran yang tinggi serta penanganan medis yang tepat dari para spesialis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....