Makin Sering Mengonsumsi Makanan Manis, Makin Sulit Berhenti? Ini Penjelasan Ilmia
- 13 Jun 2026 09:51 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Pernah merasa semakin sering mengonsumsi makanan atau minuman manis, semakin besar pula keinginan untuk mengkonsumsinya lagi? Fenomena tersebut ternyata memiliki dasar ilmiah yang berkaitan dengan cara kerja otak dan sistem metabolisme tubuh.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan dapat mengaktifkan sistem penghargaan atau reward system di otak. Dalam ulasan yang diterbitkan jurnal Current Nutrition Reports pada 2026, makanan tinggi gula diketahui merangsang pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang, motivasi, dan pembentukan kebiasaan. Aktivasi berulang pada jalur ini dapat membuat seseorang lebih terdorong untuk mencari makanan manis kembali.
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa gula tidak dapat disamakan secara langsung dengan zat adiktif seperti kokain. Kajian yang dipublikasikan dalam Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa makanan manis dan narkotika memang sama-sama melibatkan sistem dopamin di otak, tetapi mekanisme dan intensitas efek biologisnya berbeda. Karena itu, istilah “kecanduan gula” masih menjadi topik yang terus diteliti.
Selain mempengaruhi otak, konsumsi gula berlebih juga berdampak pada metabolisme tubuh. Penelitian dalam jurnal Nutrients menemukan bahwa makanan tinggi gula dapat menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah dalam waktu singkat. Sebagai respons, tubuh meningkatkan produksi insulin untuk menurunkan kadar gula darah. Ketika kondisi ini terjadi berulang kali, sebagian orang dapat mengalami rasa lapar lebih cepat dan keinginan yang lebih besar untuk mengonsumsi makanan manis.
Dampak lain yang mulai banyak diteliti adalah hubungan antara gula dan kesehatan saluran pencernaan. Sejumlah kajian mengenai mikrobiota usus, pola makan tinggi gula tambahan dapat memengaruhi keseimbangan bakteri di dalam usus. Sebaliknya, pola makan yang kaya serat dari buah, sayur, dan biji-bijian cenderung mendukung pertumbuhan bakteri yang berkontribusi pada kesehatan metabolik.
Beberapa perubahan positif juga dapat terjadi ketika seseorang mulai mengurangi konsumsi gula tambahan. Dalam beberapa hari hingga minggu, tubuh dapat mengalami kestabilan kadar gula darah yang lebih baik, sementara sensitivitas insulin berpotensi meningkat. Namun, para ahli menegaskan bahwa respons tersebut dapat berbeda pada setiap individu tergantung kondisi kesehatan, pola makan, dan aktivitas fisiknya.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Bahkan, pengurangan hingga di bawah 5 persen atau sekitar 25 gram per hari dinilai dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Para ahli gizi juga mengingatkan bahwa yang perlu dibatasi adalah gula tambahan yang terdapat pada minuman berpemanis, makanan penutup, dan produk ultra-proses. Sementara itu, gula alami yang terkandung dalam buah, sayuran, dan susu tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat karena disertai vitamin, mineral, dan serat yang bermanfaat bagi tubuh. Dengan menerapkan pola makan seimbang dan mengurangi konsumsi gula tambahan secara bertahap, seseorang dapat membantu menjaga kesehatan metabolisme sekaligus mengurangi keinginan berlebihan terhadap makanan manis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....