Anime Jepang Mulai Dikembangkan sebagai Media Terapi Kesehatan Mental
- 23 Mei 2026 13:25 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Anime yang selama ini identik dengan hiburan kini mulai dilirik sebagai media pendukung kesehatan mental di Jepang. Sejumlah peneliti mencoba memanfaatkan kedekatan emosional penonton dengan karakter anime untuk membantu mengurangi stres, kelelahan mental, hingga gejala depresi pada anak muda.
Ide tersebut dikembangkan oleh Francesco Panto, seorang psikiater asal Italia yang telah lama menetap di Jepang. Ia mengaku memiliki hubungan emosional yang kuat dengan anime sejak usia remaja. Menurutnya, tayangan anime dan manga pernah membantunya melewati masa sulit ketika mencari jati diri saat tumbuh di Sisilia, Italia.
“Anime dan manga memberi saya rasa nyaman ketika menghadapi tekanan saat remaja,” ujar Francesco Panto dalam wawancara yang dikutip AFP pada Jumat, 22 Mei 2026.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Francesco bersama tim peneliti di Yokohama City University menjalankan studi eksperimental mengenai konseling berbasis karakter fiksi. Penelitian yang berlangsung selama enam bulan dan selesai pada Maret 2026 itu melibatkan 20 responden muda berusia 18 hingga 29 tahun yang memiliki gejala depresi ringan.
Dalam program tersebut, peserta tidak menjalani sesi terapi konvensional. Mereka justru berbicara dengan psikolog yang hadir melalui avatar bergaya anime dengan suara digital yang telah dimodifikasi. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan rasa aman sehingga peserta lebih mudah mengekspresikan perasaan dan kondisi psikologis mereka.
Tim peneliti merancang enam karakter berbeda yang mewakili berbagai persoalan mental. Salah satu karakter bernama Kuroto Nagi digambarkan memiliki kecenderungan bipolar. Sementara karakter lain dibuat dengan latar kecemasan berlebih, trauma psikologis, hingga masalah ketergantungan alkohol. Meski membawa tema serius, seluruh karakter tetap dirancang menarik dan mudah diterima peserta.
Peneliti lain yang terlibat dalam proyek tersebut, Mio Ishii, mengatakan pendekatan kreatif ini diharapkan dapat menjadi pilihan baru bagi generasi muda Jepang yang kesulitan mencari bantuan psikologis. Ia menilai masih banyak anak muda yang merasa tertekan hingga kehilangan motivasi menjalani sekolah maupun pekerjaan.
“Tujuan kami adalah menghadirkan alternatif dukungan mental yang lebih mudah diterima generasi muda,” kata Mio Ishii dikutip AFP, Jumat, 22 Mei 2026.
Penelitian tersebut sekaligus menyoroti masih kuatnya stigma kesehatan mental di Jepang. Berdasarkan data World Economic Forum tahun 2022, hanya sebagian kecil masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Karena itu, penggunaan media populer seperti anime dinilai berpotensi menjadi jembatan baru dalam membantu masyarakat memahami pentingnya kesehatan mental.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....