Mengungkap Asal-Usul Kode Alfabet Vitamin dalam Perkembangan Ilmu Gizi

  • 19 Jun 2026 14:41 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Vitamin telah lama dikenal sebagai zat penting yang membantu menjaga kesehatan tubuh. Namun, tidak banyak orang mengetahui bahwa penamaan vitamin dengan huruf seperti A, B, C, D, E, dan K memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan ilmu gizi modern.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Pada abad ke-19, para ilmuwan masih meyakini bahwa protein merupakan unsur utama yang menentukan kesehatan manusia. Pandangan tersebut muncul setelah ahli kimia Belanda, Gerardus Johannis Mulder, mengemukakan teori tentang protein sebagai komponen penting dalam proses nutrisi.

Meski demikian, sejumlah penyakit seperti skorbut dan rakitis tetap banyak ditemukan pada masyarakat dengan pola makan yang terbatas. Saat itu, para peneliti belum memahami bahwa penyakit tersebut sebenarnya berkaitan dengan kekurangan zat gizi tertentu yang jumlahnya sangat kecil di dalam tubuh.

Penelitian mengenai hubungan makanan dan penyakit semakin berkembang ketika kasus beri-beri banyak menyerang pelaut dan masyarakat yang mengonsumsi beras putih sebagai makanan pokok. Dokter Jepang Kanehiro Takaki menduga penyakit tersebut berkaitan dengan pola makan, meskipun penyebab pastinya belum diketahui.

Penemuan penting kemudian datang dari dokter Belanda Christian Eijkman yang melakukan percobaan pada ayam. Ia menemukan bahwa ayam yang mengonsumsi beras putih mengalami gejala serupa beri-beri, sedangkan ayam yang dieri beras merah tetap sehat.

Temuan tersebut mendorong ahli kimia Polandia Casimir Funk untuk meneliti lebih lanjut kandungan pada dedak dan kulit beras. Pada tahun 1912, ia menyimpulkan adanya senyawa khusus yang sangat penting bagi kehidupan dan menamainya "vitamine", gabungan dari kata latin yang berarti kehidupan dan istilah kimia "amina".

Penemuan Funk mengubah cara pandang dunia ilmiah terhadap penyakit. para peneliti mulai menyadari bahwa sejumlah gangguan kesehatan dapat muncul akibat kekurangan zat gizi tertentu dan dapat dicegah melalui asupan yang memadai.

Setelah itu, berbagai penelitian dilakukan untuk menemukan zat gizi lain yang berperan penting bagi tubuh. Salah satu hasilnya adalah penemuan vitamin A yang larut dalam lemak dan terbukti mendukung pertumbuhan serta kesehatan hewan percobaan.

Peneliti kemudian menemukan vitamin B yang awalnya dianggap sebagai satu zat tunggal. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, vitamin B ternyata terdiri atas beberapa jenis yang kemudian diberi nomor sesuai urutan penemuan, seperti B1, B2, B3, hingga B12.

Huruf "e" pada kata "vitamine" akhirnya dihapus setelah ilmuwan mengetahui bahwa tidak semua vitamin termasuk golongan amina yang mengandung nitrogen. Meski demikian, sistem penamaan berdasarkan huruf tetap dipertahankan karena dianggap sederhana dan mudah dikenali.

Ada satu pengecualian dalam penamaan tersebut, yaitu vitamin K. Vitamin ini ditemukan oleh peneliti Denmark Carl Peter Henrik Dam dan diberi nama berdasarkan kata "koagulation" yang berarti pembekuan darah dalam bahasa Jerman dan beberapa bahasa Skandinavia.

Hingga kini, para ilmuwan menilai seluruh vitamin esensial yang dibutuhkan manusia telah berhasil diidentifikasi. Walaupun kemungkinan penemuan vitamin baru sangat kecil, penelitian mengenai manfaat, fungsi, dan peran mikronutrien terhadap kesehatan terus berkembang untuk mengungkap lebih banyak rahasia tentang hubungan antara makanan dan tubuh manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....