Leukemia Jadi Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak
- 15 Mei 2026 22:18 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Leukemia merupakan jenis kanker yang berasal dari sel pembentuk sel darah putih di sumsum tulang dan menjadi kanker yang paling banyak terjadi pada anak usia di bawah 18 tahun. Penyakit ini terjadi akibat produksi sel darah putih abnormal yang tumbuh tidak terkendali sehingga mengganggu pembentukan sel darah merah, trombosit, dan sel darah putih normal.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam kondisi normal sumsum tulang memproduksi sel darah secara seimbang. Namun pada penderita leukemia, sel darah putih muda mengalami gangguan pematangan sehingga terus membelah diri tanpa kontrol dan mendesak produksi sel darah lainnya.
Kondisi tersebut menyebabkan tubuh mengalami anemia, gangguan pembekuan darah, hingga lebih rentan terkena infeksi. Leukemia limfoblastik akut atau LLA menjadi jenis leukemia yang paling sering ditemukan pada anak. Sekitar 85 persen kasus LLA merupakan tipe sel B yang memiliki respons terapi cukup baik dengan angka harapan hidup lima tahun mencapai 90 persen.
Secara medis, leukemia pada anak diawali oleh perubahan genetik pada sel tubuh, seperti perubahan susunan kromosom, aktivasi oncogene, hingga gangguan jalur sinyal sel. Perubahan awal tersebut kemudian diperkuat oleh mutasi tambahan atau “second hit” yang menyebabkan sel blast berkembang tanpa terkendali di sumsum tulang dan menyebar ke aliran darah.
Gejala leukemia pada anak kerap menyerupai penyakit umum sehingga sering terlambat dikenali. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak tampak pucat, mudah lelah, lemas, mimisan berulang, mudah memar, hingga muncul bintik merah pada kulit.
Selain itu, anak juga dapat mengalami demam berkepanjangan, infeksi berulang, nyeri tulang atau sendi, pembesaran kelenjar getah bening, perut membesar akibat pembesaran hati atau limpa, serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
| Baca juga: Bahaya Kimia di Balik Headphone |
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan sumsum tulang, pemeriksaan pencitraan, hingga pemeriksaan genetik guna menentukan jenis leukemia dan terapi yang tepat.
Pengobatan utama leukemia pada anak adalah kemoterapi yang dilakukan dalam beberapa tahap, mulai dari fase induksi, konsolidasi atau intensifikasi, hingga fase pemeliharaan yang dapat berlangsung selama dua hingga tiga tahun. Selain kemoterapi, pasien juga dapat menjalani imunoterapi, radioterapi dalam kondisi tertentu, serta perawatan suportif.
Perawatan suportif meliputi transfusi darah, pemberian nutrisi yang cukup, antibiotik untuk mencegah infeksi, serta dukungan psikologis bagi anak dan keluarga selama proses pengobatan berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....