Akademisi & Mahasiswa Ekonomi Indonesia Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan
- 16 Mei 2026 19:13 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Pertumbuhan ekonomi di Indonesia menjadi perhatian serius para akademisi ekonomi dalam satu kuartal belakangan ini. Hal itu terungkap dalam diskusi Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia (FMEI) yang berlangsung di Gedung Andi Hakim Nasution, Sabtu 16 Mei 2026 sore.
Dalam pemaparan yang disampaikan Prof. Dr. Sahara, S.P., M.Si. dan Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E. Menyebutkan jika kebijakan nasional terlalu menekankan pada pertumbuhan ekonomi yang ternyata menggunakan pendekatan ekonomi yang berbeda. Perbedaan tersebut pada pertumbuhan ekonomi Indonesia antara pemerintah dan Bank Indonesia hingga anomali kebijakan dilapangan.
Program pembangunan yang mengandalkan pembiayaan berbasis utang dapat mengurangi ruang fiscal, Guru Besar dalam bidang Ilmu Ekonomi Kebijakan Prof. Dr. Sahara mengapresiasi adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi dari tahun lalu. Menurutnya pertumbuhan harus bersumber dari Investasi dan naiknya ekspor.
“Untuk triwulan 1 mengalami peningkatan dari tahun lalu bersumber dari belanja pemerintah dan konusmsi rumah rangga dalam jangka pendek itu ok tapi kalau mau pertumuhan berkelanjutan harus ditingkatkan dari eksport dan investasi,” jelas Prof. Sahara.
Mandatory Spending untuk Pendidikan sebesar 20% dari APBN khawatir diklaim dialokasikan sebagai biaya operasional penyelenggaraan makan bergizi gratis (MBG). Hal itu menjadi pucuk diskusi antara perwakilan Mahasiswa Ekonomi dari seluruh Indonesia dengan nara sumber diskusi.
Masuknya pos MBG dalam anggaran pendidikan tidak hanya menjadi materi perdebatan hukum. Namun juga mempengaruhi fasilitas dan mutu Pendidikan
"Langsung intervensi pada SPPG dan langsung bahkan ini ada kecenderungan memetikan usaha masyarakat dengan adanya MBG warung warung di sekolahan tutup karena orang orang udah dapat makan dari pemerintah seperti di IPB ada juga warung yang jual makanan 10 ribu dan itu berdampak pada langsung pada penjual penjual makanan,” tambah Prof. Faroby Faletehan.
Seperti dijelaskan Guru Besar Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, dengan adanya MBG warung di sekolah tutup, yang sebenarnya dapat dilakukan melalui interfensi internal sekolah dengan memaksimalkan fungsi kantin sekolah sehingga lebih berdampak pada masyarakat dibawah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....