Kurangi Sampah Plastik, Masyarakat Dianjurkan Menerapkan Eco Qurban
- 25 Mei 2026 12:13 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Perayaan Idul adha tidak hanya menjadi momentum ibadah dan berbagi kepada sesama, tetapi juga mulai diarahkan menjadi gerakan peduli lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep qurban ramah lingkungan atau “Eco Qurban” semakin digaungkan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu fokus utamanya adalah mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai saat pembagian daging qurban.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bahkan mengajak masyarakat merayakan Iduladha tanpa sampah plastik melalui kampanye nasional pengurangan limbah plastik. Masyarakat dan panitia qurban dianjurkan mengganti kantong plastik dengan wadah yang lebih ramah lingkungan seperti besek bambu, daun pisang, daun jati, maupun wadah guna ulang lainnya.
Penggunaan kemasan alami dinilai mampu mengurangi timbulan sampah secara signifikan. Selama ini, pembagian daging qurban identik dengan kantong kresek sekali pakai yang langsung dibuang setelah digunakan. Jika dilakukan serentak di banyak daerah, jumlah sampah plastik yang dihasilkan dalam satu hari bisa sangat besar dan mencemari lingkungan.
Sejumlah daerah di Indonesia mulai menerapkan sistem pembagian daging qurban tanpa plastik. Di Kota Yogyakarta misalnya, berbagai masjid dan mushola telah menggunakan besek bambu, daun jati, hingga wadah makanan guna ulang saat pembagian daging qurban. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan bahan alami juga dianggap lebih aman dan higienis untuk makanan.
Tidak hanya mengurangi sampah, qurban ramah lingkungan juga memberikan dampak ekonomi positif bagi pengrajin lokal. Menjelang Iduladha, permintaan besek dan anyaman bambu meningkat tajam di sejumlah daerah. Di Sumedang, para perajin bongsang bambu bahkan mengalami kenaikan pesanan hingga sekitar 30 persen menjelang musim qurban.
Di beberapa wilayah, penggunaan daun jati sebagai pembungkus daging qurban juga kembali populer. Selain mudah didapat dan murah, daun jati dipercaya membuat aroma daging lebih sedap dibanding dibungkus plastik. Tradisi ini sekaligus menghidupkan kembali kebiasaan lama masyarakat yang lebih dekat dengan alam dan minim limbah.
Pemerintah daerah juga terus mengedukasi masyarakat agar pengelolaan limbah qurban dilakukan dengan baik. Selain mengurangi plastik, panitia qurban diimbau tidak membuang limbah hewan seperti darah dan isi perut ke saluran air atau sungai karena dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap.
Semangat qurban sejatinya bukan hanya tentang berbagi daging kepada sesama, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Melalui langkah sederhana seperti membawa wadah sendiri atau menggunakan kemasan alami, masyarakat dapat ikut berkontribusi mengurangi sampah plastik. Qurban ramah lingkungan menjadi bukti bahwa nilai ibadah dan kepedulian terhadap bumi dapat berjalan beriringan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....