Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Tekan Industri Galangan Kapal Nasional
- 08 Jun 2026 12:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Faktor Tekanan: Industri galangan kapal nasional terpuruk akibat lonjakan kurs dolar AS, harga energi, dan material baku yang dipicu konflik geopolitik Timur Tengah.
- Kenaikan Biaya: Harga Solar B40 melonjak hingga 89,19%, sedangkan material utama seperti plat baja dan komponen impor (porsi 45%) ikut membubung tinggi.
- Langkah Penyelamatan: Pelaku usaha terpaksa menaikkan tarif reparasi kapal hingga 20% dan meminta pemerintah memberikan subsidi BBM industri demi menjaga daya saing.
RRI.CO.ID, Jakarta - Industri galangan kapal nasional saat ini menghadapi tantangan berat akibat lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Hal itu disampaikan Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal Dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), Anita Puji Utami.
Menurutnya, kondisi sektor maritim ini kian diperparah oleh melambungnya harga energi serta bahan baku produksi secara global. Tekanan industri ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi akibat konflik geopolitik Timur Tengah.
Eskalasi tersebut berdampak langsung pada rantai pasok pelaku usaha dalam negeri yang masih bergantung pada komoditas impor. "Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita dalam keterangn tertulis yang diterima RRI, Senin, 8 Juni 2026.
Ia mengatakan, ketergantungan tersebut membuat industri lokal sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Data internal Iperindo mencatat harga Solar B40 melonjak signifikan hingga 89,19 persen dibanding periode sebelumnya.
Selain energi, harga bahan pokok seperti plat baja juga merangkak naik antara 7 hingga 12,60 persen. "Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari Pemerintah," ujar Anita.
Harapan ini dinilai krusial mengingat harga komponen pendukung lain seperti cat dan oli operasional ikut membubung tinggi. Menurutnya, banyak pelaku usaha terjebak kontrak lama yang ditandatangani saat kurs dolar AS masih berada di posisi rendah.
Akibatnya, pembengkakan biaya tidak terhindarkan ketika mereka harus melakukan pelunasan material dengan kurs yang tinggi. Menyikapi hal tersebut, sejumlah galangan kapal terpaksa menaikkan tarif reparasi armada hingga mencapai 20 persen.
Sementara untuk proyek pembangunan kapal baru, para pengusaha kini tengah menegosiasikan eskalasi biaya dengan pemilik kapal. Melalui momentum ini, Iperindo berharap pemerintah segera turun tangan memberikan dukungan nyata kepada sektor maritim nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....