Indonesia Jadi Eksportir Minyak Kelapa Terbesar Kedua di Dunia setelah Filipina

  • 31 Mei 2026 06:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia menjadi eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia, baik minyak kelapa mentah maupun yang dimurnikan
  • Permintaan global terhadap minyak kelapa murni terus meningkat seiring tren gaya hidup sehat. Selain trend penggunaan produk alami di sektor pangan, kosmetik, serta kesehatan
  • Tantangan utama sektor minyak kelapa Indonesia adalah ketahanan pasokan bahan baku

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia menjadi eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia, baik minyak kelapa mentah maupun yang dimurnikan. Hal tersebut merupakan hasil Kajian sektoral Indonesia Eximbank (IEB) Institute.

Kajian itu menyebutkan, pangsa pasar global minyak kelapa Indonesia sekitar 22 persen, pada tahun 2025. Sementara itu eksportir minyak kelapa peringkat pertama, Filipina porsinya 49 persen, peringkat ketiga adalah Belanda dengan porsi 10 persen.

Pada Januari-Desember 2025, volume ekspor minyak kelapa Indonesia turun sekitar 18 persen. Namun, secara kumulatif nilai ekspornya meningkat lebih dari 43 persen.

“Peningkatan nilai ekspor dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku, dan pasokan domestik yang dipengaruhi oleh El Niño. Sehingga sebagian pabrik untuk sementara mengurangi kapasitas produksi, akibatnya tekanan harga minyak kelapa di pasar ekspor semakin meningkat ,” kata Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu, 31 Mei 2026.

Menurut Rini, Indonesia memiliki keunggulan berupa diversifikasi pasar ekspor yang tinggi, lebih dari 90 negara tujuan. Sehingga Indonesia tidak bergantung pada satu atau dua pasar utama saja.

Pasar utama ekspor minyak kelapa Indonesia diantaranya Belanda, Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. Selain itu, ada peluang penetrasi lebih lanjut ke Eropa dan kawasan non-tradisional.

"Permintaan global terhadap minyak kelapa murni terus meningkat seiring tren gaya hidup sehat. Selain trend penggunaan produk alami di sektor pangan, kosmetik, serta kesehatan," ujar Rini.

IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa akan tumbuh moderat sekitar 9 persen tahun 2026. Pertumbuhan ekspornya dipengaruhi pemulihan produksi dari kompetitor seperti Filipina, dan penyesuaian harga kelapa berangsur ke level normalnya.

Untuk itu, ucap Rini, Indonesia membutuhkan strategi yang tepat untuk memperkuat posisinya di pasar global. Tantangan utama sektor minyak kelapa Indonesia adalah ketahanan pasokan bahan baku.

Hal tersebut karena adanya tekanan dari penuaan pohon dan produktivitas pekebun kecil yang masih rendah. Termasuk dampak cuaca ekstrem, serta meningkatnya ekspor kelapa bulat ke luar negeri.

“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional," ujar Rini. Pemerintah telah memulai langkah peremajaan kebun dengan realisasi sekitar 44,9 ribu hektar pada 2024.

Pemerintah juga menargetkan perluasan program replanting hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027. "Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kelapa dan menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri,” kata Rini lagi.

Menurutnya, hilirisasi industri pengolahan minyak kelapa juga penting untuk meningkatkan daya saing. “Peremajaan kebun kelapa dan hilirisasi menjadi strategi untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku minyak kelapa di masa depan," ucap Rini menutu penjelasannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....