Kementrian Ekraf Dorong Kolaborasi dengan B57+ untuk Pasar Global
- 22 Apr 2026 16:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Ekraf dorong kolaborasi dengan B57+ untuk membuka akses pasar global pelaku ekonomi kreatif
- Fokus diarahkan pada aspek akses, talenta, dan kekayaan intelektual
- Potensi ekonomi halal global sangat besar dan Indonesia berpeluang menjadi pusat ekonomi halal
- Kolaborasi menjadi kunci penguatan ekonomi kreatif
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, mendorong kolaborasi dengan B57+ (Business 57 Plus), untuk memperkuat pelaku ekonomi kreatif. Langkah itu diharapkan membuka akses mereka menembus pasar global, melalui penguatan kekayaan intelektual.
Menteri Ekraf menilai B57+ sebagai forum yang selaras, dengan visi pengembangan ekonomi kreatif nasional. Ia juga menyebut, kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Menurut Teuku Riefky Harsya, kolaborasi dapat dimulai dari akses pendanaan dan pasar, serta peningkatan talenta yang menjadi fokus bersama. “Kaitannya nanti bagaimana kita berkolaborasi dengan B57+, Indonesia termasuk bisa mulai dari akses pendanaan, akses pasar, fasilitasi untuk akses pasar, fasilitasi untuk akses meningkatkan talenta. Kami mengharapkan dengan berkolaborasi bersama B57+ membantu mendukung brand Indonesia untuk go global,” ujar Menteri Ekraf saat menghadiri acara Halal Bihalal B57+ Asia Pacific Chapter, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu 22 April 2026.
Forum B57+ merupakan inisiatif kolaboratif di bawah Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD). Forum ini fokus menguatkan jejaring pelaku usaha negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Sementara itu Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai, momentum halal bihalal memiliki makna strategis dalam ekonomi. Maknanya lebih dari sekadar tradisi pasca-Idulfitri, melainkan sebagai penguatan persaudaraan ekonomi umat dalam konteks global.
“Indonesia tetap kokoh di posisi ketiga besar dunia dan mungkin dalam waktu tidak lama akan naik ke puncak. Menurut data proyeksi 2026, ekonomi halal global diperkirakan bernilai lebih dari USD 3 triliun. Kita tidak bisa lagi melihat ekonomi halal hanya dari perspektif ibadah. Ini adalah industri raksasa. semoga bisa menjadikan Indonesia sebagai jajar ekonomi syariah di kawasan Asia Pasifik bahkan di dalam dunia internasional,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Ketua Umum B57+ Asia Pacific Chapter, Arsjad Rasjid, menekankan pentingnya kolaborasi global. Hal itu menjadi kunci menghadapi dinamika ekonomi dunia, utamanya dalam memanfaatkan potensi ekonomi halal yang terus berkembang.
“B57+ misinya sederhana, tapi penuh ambisi. Menerjemahkan kekuatan bersama menjadi kemakmuran bersama. Hal ini dicapai melalui perdagangan, investasi, konektivitas bisnis yang konkret. Dan melalui B57+, Indonesia mengambil peran sebagai jembatan, jembatan of leadership atau kepemimpinan kerja sama ekonomi halal di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya.
Kementerian Ekraf optimistis kolaborasi internasional akan semakin terbuka melalui forum ini. Upaya ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi kreatif berbasis halal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....