Wamen Investigasi Pastikan Proyek Bioetanol Tak Ganggu Ketahanan Pangan
- 20 Apr 2026 16:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memastikan pengembangan bioetanol di Indonesia tidak akan mengganggu ketahanan pangan maupun ekosistem. Hal ini ditegaskan dalam rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung yang melibatkan Pertamina dan Toyota.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah memastikan pengembangan bioetanol di Indonesia tidak akan mengganggu ketahanan pangan maupun ekosistem. Hal ini ditegaskan dalam rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung yang melibatkan Pertamina dan Toyota.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengatakan proyek ini menggunakan pendekatan teknologi generasi kedua atau second generation. Teknologi tersebut memanfaatkan limbah biomassa sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan pangan.
Ia menjelaskan, bahan baku bioetanol berasal dari berbagai sumber seperti tebu, singkong, hingga sorgum. Selain itu, limbah dari komoditas tersebut juga dapat diolah menjadi energi.
“Second generation artinya tidak mengganggu ekosistem yang ada, termasuk ketahanan pangan. Ini akan dikombinasikan dengan first generation agar tetap berimbang,” ujarnya di Jakarta, Senin, 20 April 2026.
Menurutnya, pendekatan ini justru dapat memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian. Limbah yang sebelumnya menjadi masalah kini bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi.
Ia menambahkan, pemerintah juga menyiapkan pengembangan lahan sorgum sebagai bahan baku pendukung. Pada tahap awal, penanaman direncanakan seluas sekitar 6.000 hektare.
Pengembangan bioetanol dilakukan dengan konsep multi-feedstock. Artinya, produksi tidak bergantung pada satu jenis bahan baku sehingga lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Proyek ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat hilirisasi energi. Selain itu, langkah ini juga untuk mendukung target bauran energi nasionalnasional.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah optimistis pengembangan bioetanol dapat berjalan tanpa mengganggu kebutuhan pangan. Bahkan, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sektor pertanian.
CEO Toyota Asia, Masahiko Maeda, menyatakan pemanfaatan bioetanol dalam proyek ini akan mengikuti arah kebijakan pemerintah Indonesia. Ia menegaskan Toyota siap menyediakan solusi kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Pada dasarnya kami mengikuti kebijakan pemerintah. Kami dapat menyediakan berbagai jenis kendaraan, baik untuk mobil penumpang maupun kendaraan komersial, sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Maeda menambahkan, fleksibilitas tersebut menjadi bagian dari komitmen Toyota dalam mendukung transisi energi. Hal ini sejalan dengan pengembangan bioetanol yang dapat dimanfaatkan di berbagai sektor, khususnya transportasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....