Harga Pakaian Diprediksi Naik imbas Konflik Timteng

  • 08 Apr 2026 17:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konflik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil.
  • Harga pakaian diperkirakan naik hingga 40–50 persen dan mulai dirasakan konsumen menjelang Idul Adha.

RRI.CO.ID, Jakarta - Dampak ketegangan di Timur Tengah mulai dirasakan industri tekstil nasional. Salah satunya mulai terasa pada kenaikan harga bahan baku polyester.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia, Farhan Aqil Syauqi, menyebut kenaikan harga bahan baku dipicu oleh fluktuasi harga minyak dunia. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong naiknya harga pakaian.

“Bahan baku polyester berasal dari turunan minyak bumi. Kenaikan minyak otomatis mendorong harga parasilin dan asam tereftalat,” katanya saat berbincang bersama Pro 3 RRI, Rabu, 8 April 2026.

Selain itu, pasokan bahan baku juga terganggu akibat konflik kawasan. Ia menyebut beberapa bahan masih diimpor dari Arab Saudi, yang sempat terdampak serangan.

“Biaya logistik juga ikut meningkat akibat mahalnya kapal kontainer dan asuransi. Kondisi ini tentu akan memperbesar tekanan biaya produksi,” ujarnya.

Farhan mengatakan dampak kenaikan akan dirasakan konsumen dalam waktu dekat. “Kemungkinan bulan depan, saat Idul Adha, harga pakaian naik sekitar 40 sampai 50 persen,” ujarnya.

Untuk menekan lonjakan harga produksi, pelaku industri mencoba mencari alternatif pasokan. Mereka juga mengusulkan kepada pemerintah untuk membebaskan pajak.

“Kami mengusulkan agar pemerintah memberi pembebasan PPN ataupun bea masuk. Supaya ini bisa menurunkan harga, minimal bisa turun 10 sampai 20%, dan itu sudah cukup,” kata Farhan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....