Geopolitik Timteng Tekan Industri Tekstil Nasional, Ekspor Terancam Turun
- 08 Apr 2026 15:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketegangan di Timur Tengah memicu kenaikan biaya logistik, kontainer, dan asuransi, yang diprediksi akan menurunkan angka ekspor serat serta benang filamen secara signifikan.
- Asosiasi menyarankan pemerintah memberikan insentif berupa pembebasan PPN atau bea masuk pada produk manufaktur guna menekan biaya produksi dan menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
- Mengingat pasar global yang tidak stabil, industri tekstil didorong untuk fokus menggarap pasar domestik yang besar guna menopang keberlangsungan usaha di tengah ketidakpastian internasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak serius pada industri tekstil nasional. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi sekaligus mengancam penurunan ekspor.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, mengatakan tekanan datang dari kenaikan harga bahan baku hingga biaya logistik global. Ia menyebut biaya kapal, kontainer, dan asuransi meningkat signifikan.
“Kalau ekspor pasti ini akan ada terjadi penurunan cukup signifikan. Karena memang kita tahu sendiri bahwa kontainer, kapal, asuransi, semua harganya naik,” ujar Farhan dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu 8 April 2026.
“Kemudian, beberapa kan salah satu negara tujuan ekspor paling besar untuk serat dan benang filament ini ada di Timur Tengah. Nah ini pasti akan terdampak bagi kita,” katanya menambahkan.
Meski demikian, Farhan melihat peluang dari pasar alternatif seperti Uni Eropa. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan penguatan rantai industri tekstil di dalam negeri.
Ia juga mendorong pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas industri. Salah satunya melalui pembebasan PPN atau bea masuk guna menekan biaya produksi.
“Kami menyarankan untuk pemerintah bisa melakukan pembebasan PPN terhadap beberapa produk manufaktur yang ada di Indonesia. Ini akan mendongkrak daya beli dan menurunkan harga produksi pastinya,” ucapnya
Presiden Donald Trump diketahui sempat melakukan gencatan senjata dalam konflik yang berlangsung. Namun, kondisi tersebut dinilai masih belum stabil dan penuh ketidakpastian.
Menurut Farhan, pasar domestik dapat menjadi penopang utama di tengah situasi global saat ini. Ia menekankan pentingnya mendongkrak daya beli dalam negeri agar industri tetap bertahan.
“Salah satu cara untuk kita bisa bertahan adalah dengan mendongkrak daya beli domestik kita. Kita punya masyarakat hampir 200 juta orang, dan ini bisa menjadi daya beli yang cukup besar bagi suatu bangsa,” kata Farhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....