Konflik AS-Iran, Komisi VI DPR Nilai Ujian Berat Bagi BUMN Sektor Migas

  • 29 Mar 2026 10:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi VI DPR RI menilai, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi ujian nyata bagi ketahanan BUMN
  • Indonesia masih mengimpor sekitar 20 persen kebutuhan minyak dari Timur Tengah
  • Jangan sampai konflik AS-Iran merugikan rakyat Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi VI DPR RI menilai, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi ujian nyata bagi ketahanan BUMN. Khususnya, terhadap perusahaan-perusahaan BUMN yang bergerak di sektor minyak dan gas (migas)

Pernyataan tegas ini, diungkapkan oleh anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim. Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, terutama dari kawasan Timur Tengah, berdampak pada stabilitas energi nasional.

“Indonesia masih mengimpor sekitar 20 persen kebutuhan minyak dari Timur Tengah. Ini tentu menjadi tantangan serius jika konflik terus meningkat dan mengganggu rantai pasok global,” kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 29 Maret 2026.

Ia menegaskan, kondisi ini harus menjadi batu ujian bagi kesiapan BUMN energi dalam menghadapi krisis. Termasuk, kemampuan mitigasi risiko yang matang dan terukur.

“Jangan sampai konflik AS-Iran merugikan rakyat Indonesia. Stabilitas pasokan dan harga energi harus tetap terjaga,” ucap Rivqy.

Di satu sisi, ia mengapresiasi, langkah pemerintah, termasuk Pertamina yang mulai melakukan diversifikasi sumber impor minyak. Langkah ini, sebagai antisipatif menghadapi ketidakpastian global.

“Langkah mencari alternatif impor dari kawasan lain saya kira sudah cukup baik. Ini menunjukkan ada upaya mitigasi yang mulai berjalan,” ujar Rivqy.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM aman. Tapi untuk LPG, Bahlil meminta masyarakat bijaksana untuk hemat menggunakan LPG.

“Jadi stok BBM kita, Isha Allah dalam kondisi yang aman, standar minimal memenuhi syarat. Terkait LPG, ini kita butuh effort, saya menyarankan masyarakat untuk bijaksana memakai LPG,” kata Bahlil dalam pertemuan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026.

Menurut Bahlil, impor LPG Indonesia mencapai 70 persen. Sedangkan impor BBM dari Timur Tengah hanya 20 persen. “Tetapi sampai hari ini kondisinya ‘clear’, kapal-kapal yang membawa pasokan energi yang dibeli pemerintah masih ‘on the track’," ucap Bahlil.

Ditanya soal kapal tanker Indonesia yang masih tertahan di Selat Hormuz, Bahlil mengatakan, masih terus melakukan komunikasi dengan Iran. “Memang tidak mudah bagaimana caranya kapal kita keluar dari Selat Hormuz, tapi komunikasi terus kita bangun,” ujar Bahlil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....