Kesepakatan ART Indonesia-Amerika, Legislator: Angin Segar untuk Pelaku Usaha

  • 23 Feb 2026 12:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyoroti, kesepakatan bertajuk 'Agreement on Reciprocal Trade' (ART). Kesepakatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) ini, merupakan hasil diplokasi konkret dan terukur.

"Penurunan tarif impor produk Indonesia dari sekitar 32 persen menjadi 19 persen, serta pemberian tarif nol persen. Untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia, merupakan capaian strategis yang patut diapresiasi. Ini angin segar bagi pelaku usaha," kata Waketum Golkar ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026.

Ia memaparkan, sepanjang tahun 2025 nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai sekitar USD 30,96 miliar. Sementara, impor dari AS sekitar USD 9,84 miliar, sehingga Indonesia membukukan surplus lebih dari USD 21 miliar.

Produk-produk seperti mesin dan perlengkapan listrik, alas kaki, pakaian jadi, serta komoditas berbasis perkebunan menjadi kontributor utama. Dengan skema tarif baru, pelaku usaha nasional dapat meningkatkan daya saing harga produk Indonesia di pasar Amerika Serikat.

"Karena beban bea masuk yang jauh lebih rendah, surplus perdagangan kita dengan Amerika sudah kuat. Perjanjian ini berpotensi memperbesar surplus tersebut jika diikuti peningkatan produktivitas dan kualitas produk dalam negeri," ucap Bamsoet.

Di satu sisi, ia mengingatkan, pentingnya mitigasi risiko terkait pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi produk Amerika Serikat. Karena, hal itu berpotensi meningkatkan persaingan bagi industri dalam negeri, terutama sektor pertanian dan manufaktur tertentu.

“Kita harus realistis dan cermat, perjanjian ini membawa peluang besar, tetapi juga tantangan. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar industri nasional tidak tergerus oleh produk impor yang lebih kompetitif," ujar Bamsoet.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengumumkan, pembebasan tarif masuk bagi 1.819 produk unggulan Indonesia ke AS. Kerja sama ini tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington D.C., AS, Kamis, 19 Februari 2026.

“Dalam ART ini terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik pertanian maupun industri. Produk tersebut meliputi minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, dan komponen pesawat terbang dengan tarif 0 persen,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers secara daring, Jumat, 20 Februari 2026.

Pemerintah Amerika Serikat memberikan fasilitas khusus bagi komoditas tekstil serta pakaian jadi asal Indonesia melalui sistem kuota tarif. Kebijakan perdagangan tersebut diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi jutaan tenaga kerja di dalam negeri.

“Hal ini memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor tersebut. Jika dihitung bersama keluarganya, dampaknya dapat dirasakan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia,” kata Airlangga.

Indonesia memberikan timbal balik berupa fasilitas bea masuk nol persen bagi komoditas pertanian utama asal Amerika Serikat. Produk gandum dan kedelai menjadi fokus utama dalam kesepakatan impor guna menjaga stabilitas harga pangan domestik.

“Sehingga masyarakat Indonesia membayar tarif 0 persen untuk barang yang diproduksi dari soybean maupun wheat. Produk tersebut antara lain berupa noodle, tahu, dan tempe,” ucap Airlangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....