Indonesia Harus Berani Bilang Tarif Trump Tidak Adil

  • 04 Apr 2025 20:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indonesia harus berani menyatakan sikap tegas terhadap Amerika Serikat terkait pengenaan tarif resiprokal 32 persen. Indonesia juga bisa meminta AS menunda pengenaan tarif yang cenderung merugikan Indonesia itu.

“Pemerintah harus secara 'clear' menyampaikan bahwa pengenaan tarif ini tidak adil. Indonesia memberikan tarif impor yang lebih rendah, ketimbang ketika Indonesia ekspor ke Amerika,” kata Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad dalam Diskusi Publik “Waspada Genderang Perang Dagang” di Jakarta, Jumat (4/4/2025).

Menurutnya, Pemerintah harus segera melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif Trump tersebut. Karena pengenaan tarifnya tidak adil, maka harus dilakukan penundaan dan Pemerintah harus secepatnya melakukan negosiasi dengan AS.

Baca Juga:

Trump Umumkan Tarif Baru, Indonesia Kena 32 Persen

Sikap Pemerintah atas Kebijakan Tarif Resiprokal AS

Indonesia Bahas Tarif Resiprokal Trump dengan Malaysia

Tauhid mencontoh ketidakadilan tarif tersebut dalam komoditas tekstil, yang awalnya hanya 1,7 persen. Dengan kebijakan tarif resiprokal, tarifnya meningkat menjadi 32 persen.

“Kenaikan tarifnya lebih dari 30 persen. Karenanya, kita perlu melakukan negosiasi dan penundaan tarif resprokal tersebut,” ujar Tauhid.

Dia juga menyebut Pemerintah harus menyiapkan dukungan darurat pada sektor-sektor yang paling terdampak kebijakan tarif resiprokal Trump. Dukungan bisa dilakukan dengan negosiasi bersama pelaku usaha, antisipasi dampak PHK, dan fasilitasi restrukturisasi pembiayaan/utang.

Sektor yang diprediksi paling terdampak di antaranya mesin, peralatan listrik, pakaian, lemak dan minyak hewan/nabati, dan alas kaki. Kesemuanya merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia ke pasar Amerika Serikat.

“Indonesia juga harus mengubah strategi perdagangan internasionalnya untuk menghadapi perang dagang Trump. Langkah Indonesia bergabung dengan BRICS sudah tepat untuk meningkatkan ekspor, namun itu saja tidak cukup,” kata Tauhid.

Hilirisasi yang dilakukan Indonesia, tambah Tauhid, harus dapat menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap impor dari AS. Artinya, hilirisasi harus bisa menciptakan barang pengganti yang selama ini diimpor dari Negeri Paman Sam itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....