Indonesia Bahas Tarif Resiprokal Trump dengan Malaysia

  • 04 Apr 2025 19:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto langsung terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk membahas kebijakan tarif Trump. Semua negara ASEAN terkena kebijakan tarif resiprokal Trump, kecuali Singapura yang hanya terkena tarif dasar 10 persen.

Menko memilih segera berkomunikasi dengan Malaysia, karena Negeri Jiran itu saat ini memegang keketuaan ASEAN. Di Kuala Lumpur, Airlangga bertemu Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

“Malaysia selaku Keketuaan ASEAN 2025, menjadi sangat penting untuk mendorong penguatan kerja sama seluruh negara ASEAN. Utamanya dalam menghadapi tantangan global saat ini, termasuk merespons kebijakan tarif resprokal Amerika Serikat,” kata Airlangga, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Jumat (4/4/2025).

Baca Juga:

Sikap Pemerintah atas Kebijakan Tarif Resiprokal AS

Indonesia Masih Menarik bagi Investor Meski Banyak PHK

Sementara, PM Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Indonesia dan Malaysia memiliki komitmen yang sama. Komitmen tersebut yakni memperkuat dan memperbarui sinergi di bidang perekonomian.

“Ini mencerminkan komitmen kerja sama yang kuat antara Indonesia dan Malaysia. Kami akan memanfaatkan persahabatan yang erat ini, untuk melakukan lebih banyak kegiatan ekonomi dan perdagangan,” ucap Anwar Ibrahim.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga menegaskan pentingnya upaya kolektif semua negara anggota ASEAN untuk menghadapi pemerintah AS. Upaya tersebut khususnya menegosiasikan kebijakan tarif resiprokal AS yang dikenakan pada hampir semua negara ASEAN.

“Indonesia dan Malaysia mengakui kebijakan tarif Presiden Trump menimbulkan tantangan besar bagi perdagangan global. Indonesia dan Malaysia percaya hubungan perdagangan harus konstruktif dan saling menguntungkan,” ujar Menko Airlangga.

Dari 10 negara ASEAN, Kamboja dikenakan tarif resiprokal paling tinggi sebesar 49 persen. Tarif resiprokal tertinggi berikutnya diterima Laos sebesar 48 persen dan Vietnam sebesar 46 persen.

"Posisi ASEAN di Indo Pasifik bisa menjadi kekuatan besar untuk mendorong penguatan ekonomi, baik secara regional dan maupun global," ucap Menko Airlangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....