Indonesia Masih Menarik bagi Investor Meski Banyak PHK
- 02 Apr 2025 21:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kementerian Perindustrian mengklaim industri manufaktur Indonesia masih tetap menarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Karena masih banyak pabrik yang akan dibangun dan akan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
“Berdasarkan laporan SIINas, selama bulan Januari-Februari 2025 ada sekitar 198 perusahaan industri yang melaporkan mereka sedang membangun. Mereka sedang dalam proses membangun fasilitas produksi dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 24 ribu lebih,” kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (2/4/2025).
Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) berupa platform integrasi data industri, mencakup izin usaha, proses produksi, dan informasi lingkungan. Platform ini memungkinkan pemerintah melakukan pengawasan, mengelola aktivitas industri serta memastikan kepatuhan industri terhadap regulasi lingkungan dan ketenagakerjaan.
Baca Juga:
Kemenperin: Penjualan Produk Manufaktur Menurun Lebaran Tahun Ini
BI Perkuat Insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial untuk Perumahan
DJP: Total Laporan SPT Baru 12,34 Juta SPT
Febri mengakui adanya penutupan pabrik dan PHK belakangan ini. Tetapi menurutnya, jumlah pabrik baru yang dibuka jumlahnya juga banyak.
“Kami berempati terhadap perusahaan industri yang tutup dan tenaga kerja yang di-PHK. Tapi industri baru yang sedang membangun fasilitasnya lebih banyak dari yang tutup, begitu pula dengan penyerapan tenaga kerjanya,” ucap Febri.
Menurutnya, Kemeperin berupaya membantu pekerja yang di-PHK dengan memindahkannya ke pabrik lain yang masih beroperasi di lokasi terdekat. Sehingga ekosistem industri tetap kondusif untuk meningkatkan permintaan domestik dan ekspor.
“Industri manufaktur masih tetap menjadi sektor andalan untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Industri manufaktur juga masih menjadi kontributor terbesar penciptaan lapangan kerja,” kata Febri.
Hingga saat ini, berdasarkan catatan Kemenperin, sebanyak 19 juta pekerja diserap oleh industri manufaktur. Sekitar 80 persen produk manufaktur dijual di pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan pemerintah, swasta dan rumah tangga.
Tantangan bagi industri manufaktur Indonesia saat ini, menurut Febri, masuknya barang impor murah. Meski pemerintah sudah berupaya membendungnya dengan berbagai kebijakan.
“Di antaranya kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pemerintah juga melakukan pembatasan impor melalui kebijan non-tarif untuk melindungi industri lokal,” kata Febri mengakhiri keterangannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....