Kemenperin Catat Indeks Kepercayaan Industri Meningkat

  • 28 Feb 2025 21:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Kepercayaan Industri (IKI) meningkat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, IKI bulan Februari 2025 di level 53,15 (ekspansi).

“Levelnya meningkat 0,05 poin dibandingkan IKI Januari 20205 dan meningkat 0,59 poin dibandingkan IKI Februari 2024. Meningkatnya IKI Januari ditopang ekspansi 21 subsektor industri dengan kontribusi sebesar 97,7 persen terhadap PDB Triwulan IV-2024,” kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Kemenperin mencatat IKI bulan Februari meningkat karena ditopang variabel pesanan baru yang meningkat. Sementara variabel produksi dan persediaan mengalami penurunan.

Baca Juga:

Pasar Khawatir Gelombang PHK, Rupiah Anjlok 141,5 Poin

IHSG Ditutup Merosot 3,3 Persen ke Level 6.270

Indonesia Ekspor Perdana 351 Ton Produk Kratom

Variabel pesanan baru berada di level ekspansi 54,57, meningkat 1,83 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Variabel produksi berada di level ekspansi 50,55 turun 2,84 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

“Produksi dan persediaan mengalami perlambatan karena belum optimalnya penyerapan persediaan produksi pada bulan Februari. Hal ini membuat perusahaan industri bersikap hati-hati dalam menambah produksinya,” ujar Febri.

Dari IKI juga terlihat daya beli masyarakat yang menurun tipis 0,5 poin di bulan Januari . Penurunan disebabkan melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE) , meskipun persepsi konsumen pada kondisi ekonomi saat ini masih kuat.

Subsektor industri yang nilai IKI nya tertinggi di bulan Februari adalah industri peralatan listrik dan industri percetaka dan reproduksi media rekaman. Sedangkan dua subsektor industri yang mengalami kontraksi adalah subsektor industri kayu, barang dari kayu dan gabus serta sektor reparasi, pemasangan mesin dan peralatan.

“Kontraksi dua subsektor tersebut, karena menurunnya permintaan. Misalnya, penurunan pesanan khusus kayu lapis dari Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok,” kata Febri menutup penjelasannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....