Pasar Khawatir Gelombang PHK, Rupiah Anjlok 141,5 Poin
- 28 Feb 2025 16:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Rupiah anjlok karena penguatan dolar yang signifikan dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan rupiah turun hingga 0,86 persen (141,5 poin) menjadi Rp16.595 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, faktor eksternal maupun internal memberikan sentimen negatif pada pasar. “Di dalam negeri, pasar merespon negatif badai pemutusan hubungan kerja di industri manufaktur,” kata Ibrahim, Jumat (28/2/2025).
Pabrik-pabrik banyak yang menutup operasinya karena bangkrut atau hengkangnya investor asing dari Indonesia. Menurut Ibrahim, PHK akan makin mengurangi jumlah kelas menengah yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
“Para pakar khawatir jumlah kelas menengah makin menyusut kalau tidak ada aksi untuk memperkuat industri. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 9,4 juta penduduk kelas menengah ‘turun kasta’ menjadi ‘calon kelas menengah’ (aspiring middle class,” ujar Ibrahim.
Baca Juga:
Kekhawatiran Pasar Kembali Mencuat, Rupiah Berisiko Lanjutkan Pelemahan
Layanan 'M-STOCK' Tawarkan Investasi SBN Hanya Rp1 Juta
Pada tahun 2024, jumlah kelas menengah tinggal 17,13 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal sebelumnya jumlah kelas menengah sebesar 21,45 persen dari total jumlah penduduk.
“Pemerintah sadar betul dampak penyusutan kelas menengah. Karenanya ini menjadi pembahasan khusus dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029,” kata Ibrahim.
Sementara Bank Indonesia sudah melakukan langkah berani melakukan intervensi karena rupiah berada di level terendah sejak Maret 2020. BI, tambah Ibrahim, melakukan intervensi valuta asing dan obligasi di perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
Pelemahan rupiah yang disebabkan penguatan dolar AS, didorong oleh kebijakan Presiden Trump. Mulai dari kenaikan tarif perdagangan sampai kebijakan energi yang diumukan Trump belum lama ini.
Di sisi lain, pasar juga mengkhawatirkan perekonomian AS yang melemah. Klaim pengangguran yang melonjak serta data ekonomi lainnya yang menunjukkan penurunan di luar ekspektasi pasar.
“Akhir pekan ini, pelaku pasar menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi di AS. Data ini menjadi pengukur inflasi yang disukai The Fed untuk menentukan suku bunga kebijakannya,” ujar Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....