IHSG Ditutup Merosot 3,3 Persen ke Level 6.270

  • 28 Feb 2025 17:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia masih belum menggeliat, akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun makin dalam. Dalam penutupan perdagangan sore ini Jumat (28/2/2025), IHSG turun signifikan hingga 3,31 persen (214,85 poin) ke level 6.270, 60.

IHSG anjlok seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sore ini juga ditutup turun tajam. Rupiah melemah hingga 141,5 poin menjadi Rp16.595 per dolar AS.

Penurunan IHSG dibarengi dengan mayoritas harga saham yang turun. Hari ini sebanyak 576 saham harganya turun, 274 saham stagnan dan 105 saham harganya naik.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 21,47 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1,25 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp20,65 triliun dan kapitalisasi pasar turun menjadi Rp10.880 triliun.

Baca Juga :

Penerimaan Negara dari Barang Kiriman Capai Rp1,7 Triliun

Layanan 'M-STOCK' Tawarkan Investasi SBN Hanya Rp1 Juta

Tim Phillip Sekuritas Indonesia Research mencatat hari ini terjadi aliran keluar modal asing yang cukup besar. Net sell (jual bersih) oleh investor asing mencapai Rp2,91 triliun.

Saham-saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, MDKA, BBCA,INKP dan BBNI. Sementara saham-saham yang menjadi penekan IHSG karena turun paling dalam adalah saham sektor bahan baku, finansial dan energi.

Tim Analis Phillip Sekuritas dalam analisisnya juga mengatakan, bukan hanya IHSG yang akhir pekan ini turun tajam. Indeks saham di kawasan Asia juga turun siginifikan dalam penutupan perdagangan hari ini.

“Indeks Nikkei 225 Jepang, Indeks Hang Seng Hong Kong dan indeks KOSPI Korea Selatan jatuh lebih dari 2 persen. Penurunan indeks saham seiring menguatnya mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama,” kata Tim Phillip Sekuritas.

Penguatan dolar AS ikut menekan harga berbagai komoditas termasuk emas. Kecuali harga minyak mentah yang merangkak naik karena kebijakan Trump membatalkan lisensi Chevron di Venezuela.

Sentimen pasar yang negatif masih dipengaruhi oleh kebijakan tarif Trump dan data ekonomi AS yang banyak menurun. Pasar mencermati prospek perekonomian AS yang memberikan sinyal melemah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....