Indonesia-India Bentuk Tim Teknis Atasi Kendala Perdagangan
- 27 Jan 2025 15:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku, membahas persoalan kendala perdagangan, industri dan investasi. Hal tersebut dilakukannya, memanfaatkan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India.
Menko Airlangga mengatakan, telah melakukan pertemuan khusus dengan Menteri Perdagangan dan Industri India Shri Piyush Goyal. Pertemuan bilateral ini menyepakati untuk segera menyelesaikan isu dan permasalahan teknis perdagangan India-Indonesia.
"Kita akan menugaskan tim teknis yang akan melakukan pertemuan kembali pada pertengahan Februari 2025. Semua isu harus diselesaikan,” kata Menko Airlangga dari New Delhi, akhir pekan kemarin.
Baca Juga :
Ketidakpastian Global Tinggi, Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Terjaga
Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Naik Signifikan 112 Poin
Ia menuturkan, Indonesia terus berupaya menyelesaikan berbagai kendala teknis untuk meningkatkan perdagangan maupun investasi dengan India. Saat ini kendala teknis yang masih dihadapi antara lain masalah perizinan, kuota, pembatasan nontarif serta prosedur kepabeanan.
“Kendala lainnya terkait ekspor sawit dan batubara Indonesia ke India. Serta pengenaan safeguard kuantitas impor melalui pembatasan kuota untuk Low Ash Metallurigical Coke dari Indonesia,” ucap Menko Airlangga.
Pembentukan Tim Teknis menjadi langkah konkrit untuk mendorong ekspor Indonesia yang lebih besar lagi ke India. Meskipun selama ini, perdagangan Indonesia dengan Indonesia selalu membukukan surplus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia ke India sepanjang tahun 2024 sebesar 20,32 juta dolar AS. Sedangkan impornya sebesar 4,93 juta dolar AS.
Sehingga neraca perdagangan Indonesia dengan Indonesia membukukan surplus sebesar 15,38 juta dolar AS. India menjadi negara kedua yang memberikan kontribusi surplus terbesar pada Indonesia, selain Amerika Serikat dan Filipina.
Komoditas ekspor terbesar Indonesia ke India dan memberikan kontribusi surplus terbesar adalah komoditas bahan bakar mineral. Termasuk komoditas lemak dan minyak hewan/ nabati serta besi dan baja.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....