PASAR DALAM FILSAFAT BISNIS

  • 03 Des 2024 12:25 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi : Secara sederhana, pasar diartikan sebagai tempat bertemunya antara pembeli dan penjual, atau antara produsen dan konsumen, atau tempat dimana berlangsungnya proses distribusi antara pemilik barang dengan mereka yang membutuhkan barang. Dalam Filsafat Bisnis, pasar menjadi hal yang tidak dapat diabaikan untuk ditelaah karena fungsinya yang penting, yakni sebagai institusi bisnis tempat berlangsungnya proses distribusi. Karenanya, terdapat beberapa poin penting yang akan dipaparkan dalam bagian pembahasan tentang hakikat pasar, yakni:

1. Para pelaku yang berkiprah dalam pasar serta peran mereka masing-masing;

2. Barang yang didistribusikan;

3. Alat transaksi untuk menunjang proses distribusi;

4. Regulasi dalam proses distribusi;

5. Bagaimana menjadikan pasar agar menjadi institusi yang menunjang kelancaran bisnis

Manusia menjadi pelaku utama dalam pasar dalam peran yang berbeda-beda, yakni sebagai produsen, distributor, konsumen, dan regulator. Selain hirau dengan peran dan kiprah mereka dalam pasar, Filsafat Bisnis bermaksud untuk mengarahkan mereka memaksimalkan peran masing-masing guna mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Jadi, tidak hanya berhasil secara materi saja, tetapi juga mampu mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan bagi sesama.

1. Produsen berfungsi sebagai orang yang memproduksi barang-barang yang akan dijual di dalam pasar. Perannya sangat vital sebagai penyedia barang yang nantinya berpengaruh pada harga jual barang. Dalam arti, produsen mampu menjadi aktor yang menentukan harga semaunya jika faktor-faktor lain dalam pasar tidak ikut campur dalam masalah penentuan harga. Jika dalam pasar hanya ada satu produsen, maka ia akan memonopoli seluruh harga dalam pasar tersebut. Tentu saja, jika proses monopoli yang dilakukannya bermanfaat bagi kesejahteraan pelaku pasar lainnya, maka hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi jika, ia bertindak sewenang-wenang dalam menentukan harga barang, tindakan tersebut akan menjadi sumber konflik dalam pasar.

Karenanya, apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang produsen yang mampu menjaga menjaga kesejahteraan pasar? Sedikitnya, ada beberapa hal yang perlu dikembangkan.

Pertama, menjaga kualitas barang yang dijual. Seorang pembeli selalu menginginkan barang yang ia beli merupakan barang yang paling bagus. Namun, dengan harga yang sangat murah. Namun, pembeli yang cerdas juga tidak akan terlalu mempermasalah harga yang lebih mahal kalau kualitas barang yang ia beli memang memuaskan atau prima. Permasalahan sering muncul ketika, bahan baku untuk membuat sebuah barang naik harganya, yang tentunya akan meningkatkan biaya produksi, namun di sisi lain harga yang diinginkan konsumen tetap. Salah satu siasat untuk mengatasi kondisi tersebut adalah menurunkan kualitas barang. Misalnya. Membuat ukuran produk menjadi lebih kecil atau mengurangi bahan baku.

Dalam perdagangan internasional, kualitas suatu produk menjadi hal penting. Pemerintah suatu Negara, terutama Negara-negara industri maju, pada umumnya akan sangat selektif terhadap berbagai barang impor yang masuk ke negaranya. Karena warga Negaranya akan menjadi konsumen dari barang-barang tersebut. Kepuasan warga atas barang impor tentu menjadi hal utama bagi pemerintah karena warganya bukanlah tempat sampah bagi produk-produk yang tidak bermutu.

Salah satu upaya bersama Negara-negara dalam menjaga kualitas produk barang-barang yang diperdagangkan secara internasional adalah ISO 9000. Negara-negara yang tergabung dalam WTO (World Trade Organization), pada umumnya, harus menyepakati aturan tentang ISO 9000. Barang-barang yang hendak dijual, diuji terlebih dahulu kualitasnya, untuk selanjutnya jika kualitasnya memang memenuhi kriteria standar, maka produk itu layak memajang logo ISO 9000 sebagai ciri produk berkualitas. Warga Negara yang menjadi pasar tujuan dari barang tersebut tidak perlu khawatir lagi atas kualitasnya.

Kedua adalah memastikan stok barang stabil di pasaran. Karena stabilitas stok barang akan berpengaruh pada kesinambungan bisnisnya sebagai produsen di lapangan. Jika, seorang produsen tidak mampu menjaga stok, bisa jadi produsen lain akan menggantikannya. Dalam kondisi stok barang sangat sulit didapat, harga barang bisa jadi sangat mahal. Produsen yang licik akan memanfaatkan naiknya harga barang dengan menimbun produk miliknya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Namun, kinerja produsen yang seperti itu jelas merugikan konsumen. Alangkah lebih baik jika dalam kondisi barang langka, produsen ikut serta mencari solusi ketersediaan barang daripada berlomba-lomba mencari keuntungan sesaat.

Ketiga, menentukan harga sesuai dengan kualitas barang. Produsen yang memasang harga terlalu tinggi, memungkinkan produknya tidak mampu diserap pasar. Tetapi, kalau terlalu rendah, bisa jadi tidak mampu memenuhi biaya produksi. Karenanya, seorang produsen harus jeli dalam menentukan harga sesuai kualitas, biaya produksi dan selera konsumen.

Keempat, memberi diskon pada even-even tertentu atau tidak segan-segan menurunkan harga bagi ‘konsumen tertentu’. Mungkin, cara ini terlihat tidak logis. Tetapi, bagi produsen yang meyakini fungsi ‘sedekah’, mengeluarkan sedikit harta dalam bentuk apapun justru akan menghasilkan keuntungan.

2. Peran yang kedua adalah distributor. Barang tidak akan jalan sendiri dari tempat produksi ke pasar. Produsen memerlukan orang yang mampu menjamin barang produksinya sampai ke pasar dalam kondisi yang baik. Misal, seorang produsen sayuran ingin sayurannya sampai di pasar dalam kondisi masih segar. Ia perlu sopir yang mampu mengantarkan barangnya dengan cepat tapi sayurannya tidak lecet-lecet karena cara mengemudi yang ugal-ugalan atau tidak apik saat mengepak barang ke dalam boks truknya.

Distributor juga harus bisa memastikan barang produsen dapat laku di pasaran. Karena, barang yang tidak laku akan menghambat produsen dalam memproduksi dan konsumen dalam membeli. Tentu, konsumen tidak ingin membeli barang-barang yang kadaluarsa. Dalam hal ini, distributor dituntut profesional dalam melayani produsen maupun konsumen.

3. Selanjutnya peran sebagai konsumen yang ‘katanya’ pembeli adalah raja. Sehingga, penjual harus memperlakukan pembeli sebaik mungkin. Namun di sisi lain, konsumen juga harus berempati dengan kondisi yang berlangsung di pasar. Misalnya, memahami kalau barang sedang sulit didapat, maka harga mahal. Janganlah ia marah-marah terhadap penjual dan ingin harga barang tetap padahal ia tahu kalau barang sedang langka.

Selanjutnya, para pebisnis harus memperhatikan barang yang dijual di pasar. Selain masalah kualitas, ketersediaan barang di pasaran, pebisnis harus hirau dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat.

Selanjutnya, pebisnis harus memperhatikan masalah alat transaksi yang dipergunakan. Misalnya, aspek halal-haram alat transaksi seperti uang. Seperti, tidak melakukan usaha kredit yang meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi apalagi sistem bunga berbunga yang menjadikan si peminjam kesulitan melunasi utangnya, atau bangkrut usahanya hanya untuk melunasi bunga uang. Karena tidak sedikit usaha rentenir seperti itu menjadi sumber konflik antara si peminjam dengan yang meminjamkan.

Selanjutnya, pebisnis harus memperhatikan regulasi dalam pasar. Dan lebih baik lagi jika turut serta menegakkan aturan tersebut. Misalnya, tidak menjual atau mengedarkan barang-barang illegal seperti barang-barang elektronik yang kian sulit dikontrol oleh pemerintah.

Semoga Bermanfaat (AM)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....