Lepat Binti, Kuliner Warisan Leluhur yang Tetap Digemari di Zaman Kekinian
- 29 Agt 2026 06:22 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan - Kue lepat binti, yang di sejumlah daerah juga dikenal sebagai lepek binti, merupakan panganan tradisional yang banyak digemari masyarakat. Kuliner ini menjadi bagian dari warisan makanan turun-temurun yang masih lekat dengan kehidupan masyarakat lokal, provinsi Bengkulu pada umumnya.
Lepat binti telah menjadi bagian dari khazanah kuliner tradisional Nusantara sejak dahulu. Penyebutan nama kue ini berbeda di sejumlah daerah, masyarakat Minangkabau dan Bengkulu Kota umumnya menyebutnya lepek binti, sedangkan Suku Serawai dan Besemah di Bengkulu lebih mengenalnya sebagai lepat binti.
Nama “lepat” merujuk pada bentuk kue yang pipih dan dibungkus menggunakan daun pisang. Sementara itu, istilah “binti” atau “be inti” mengacu pada isian yang terdapat di dalam kue, umumnya berupa kelapa parut yang dimasak dengan gula sehingga menghasilkan cita rasa manis.
Salah seorang penjual lepat binti Dari Padang Guci, Kabupaten kaur, Amitia, mengaku kerap menyajikan kue ini sebagai salah satu menu unggulannya. Karena menururnya, cemilan tradisional ini banyak peminatnya,.
“Hampir tiap hari kue ini saya bikin untuk dijual, dan kue ini selalu banuyak peminat. Saya kan jualannya selain buka lapak kecil kecilan, juga jualan online melalui Medsos, tiap kali saya posting menu lepat binti paling banyak dipesan pelanggan,” ujar Amitia.
Menurut Amitia, bahan dasar lepat binti tergolong sederhana, tetapi proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan keterampilan. Adonan kue umumnya dibuat dari tepung ketan yang dicampur dengan santan, sedangkan isiannya dapat berupa kelapa muda atau kelapa parut yang dimasak bersama gula merah maupun gula putih dan sedikit bumbu.
“Setelah adonan dan isian siap, lepat binti dibungkus menggunakan daun pisang muda yang telah dibersihkan. Bungkusan tersebut kemudian dikukus hingga matang, sehingga menghasilkan tekstur ketan yang kenyal dengan perpaduan rasa gurih dari santan dan manis dari isian kelapa,” kata Amitia menjelaskan cara sederahana membuatnya.
Keberadaan lepat binti tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat Bengkulu. Di sejumlah daerah, termasuk masyarakat Kaur, kue ini kerap disajikan dalam berbagai kegiatan adat dan perayaan seperti pernikahan, khitanan, syukuran, lamaran, serta tradisi nerimau lemang dan ngantat lemang.
Lepat binti juga menjadi salah satu panganan yang banyak dicari sebagai takjil selama bulan Ramadan dan hidangan saat Hari Raya Idulfitri. Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus sekaligus mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pelestarian lepat binti penting dilakukan agar warisan kuliner tersebut tetap dikenal oleh generasi mendatang. Upaya itu dapat dilakukan melalui edukasi kuliner di sekolah, festival makanan tradisional, promosi melalui media sosial, serta inovasi penyajian dan variasi isian tanpa menghilangkan cita rasa dan karakter asli lepat binti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....