Sejarah Cenil, Jajanan Legendaris Solo yang Sarat Filosofi

  • 26 Jul 2026 15:36 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Cenil merupakan jajanan tradisional khas Jawa yang hingga kini masih populer dan digemari oleh berbagai lapisan masyarakat di Kota Solo. Kuliner bertekstur kenyal ini tidak hanya menawarkan rasa gurih dan manis, tetapi juga menyimpan perjalanan sejarah yang amat panjang.

Catatan Abad ke-19 dan Bahan Dasar Alternatif

Eksistensi cenil terbukti secara historis karena telah dicatat dalam naskah sastra klasik Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 Masehi. Pada era tersebut, masyarakat memanfaatkan tepung pati singkong atau sagu untuk diolah menjadi penganan pengganjal perut saat terjadi krisis pangan.

Kehadirannya di wilayah Solo menjadikan cenil sebagai simbol ketahanan pangan rakyat yang mampu diolah secara sederhana namun berkelas. Seiring berjalannya waktu, jajanan pasar ini bertransformasi menjadi hidangan pelengkap yang selalu dicari oleh para pecinta kuliner tradisional.

Makna Kesatuan dan Ciri Khas Penyajian

Tekstur lengket dan kenyal pada cenil mengandung nilai filosofi mendalam mengenai eratnya ikatan persaudaraan antar sesama manusia. Sifatnya yang sulit dipisahkan melambangkan kegotongroyongan serta rasa kebersamaan masyarakat Jawa yang sangat kuat.

Secara visual, warna-warni cenil melambangkan keberagaman sifat manusia yang dapat disatukan dalam keharmonisan hidup. Baluran parutan kelapa gurih serta siraman gula merah cair di atasnya kian mempertegas pesan manisnya kerukunan sosial.

Pelestarian Warisan Kuliner di Era Modern

Meskipun zaman terus berkembang, pedagang jajanan tradisional di pasar-pasar Solo tetap setia mempertahankan resep autentik penganan bersejarah ini. Keberadaan cenil menjadi bukti nyata bahwasanya kekayaan kuliner nusantara mampu bertahan melintasi ruang dan waktu.

Sumber

  • Pakubuwana V & Pujangga Keraton Surakarta. (1814).Serat Centhini (Suluk Tambangraras). Surakarta: Keraton Kasunanan Surakarta.
  • Sukenti, K., Guhardja, E., & Purwanto, Y. (2013).Kajian Etnobotani dan Nilai Filosofi Jawa dalam Serat Centhini. Yogyakarta: Jurnal Litera UNY.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....