Krengsengan: Kuliner Legendaris Solo, Sentuhan Lidah Belanda dalam Kearifan Lokal

  • 25 Mei 2026 23:47 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Kota Surakarta (Solo) memang tak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Di balik populernya Selat Solo atau Timlo, ada satu hidangan legendaris yang menyimpan kisah akulturasi budaya yang mendalam antara Jawa dan Eropa (Belanda): Krengsengan.

Meskipun nama "Krengsengan" juga jamak ditemukan di Jawa Timur dengan basis daging kambing dan petis, Krengsengan khas Solo memiliki karakter yang sepenuhnya berbeda. Di Solo, kuliner ini lahir dari upaya masyarakat lokal meniru kuliner kelas atas para meneer Belanda pada masa kolonial, namun disesuaikan dengan bahan-bahan yang ramah di kantong rakyat jelata kala itu.

Lahir dari Inspirasi Smoore Belanda

Menurut para ahli sejarah kuliner, Krengsengan Solo terinspirasi dari hidangan daging berkuah khas Belanda yang disebut Smoore (yang kemudian kita kenal sebagai Semur). Pada masa penjajahan, masyarakat pribumi melihat para bangsawan dan orang Belanda menyantap daging sapi tiruan dengan kuah cokelat pekat yang kaya mentega.

Karena daging sapi merupakan barang mewah yang sulit dijangkau, warga Solo memutar otak. Mereka memanfaatkan jeroan (seperti paru, babat, usus) atau potongan daging kambing/sapi sisa, lalu meraciknya dengan bumbu lokal yang kuat.

Proses memasak dengan wajan yang berbunyi "sreng-sreng" saat bumbu ditumis itulah yang diduga kuat menjadi asal-usul nama Krengsengan.

Karakter Rasa: Manis, Gurih, dan Sentuhan Merica yang Menghangatkan

Berbeda dengan krengsengan Jawa Timur yang cenderung kering dan pekat karena petis, Krengsengan Solo memiliki ciri khas tersendiri:

  • Kuah yang Nyemek: Hidangan ini disajikan dengan kuah kental yang tidak terlalu banyak (nyemek), mirip dengan saus smoore Belanda versi lokal.
  • Dominasi Manis-Gurih: Menggunakan kecap manis khas Solo yang legendaris, dipadukan dengan bawang merah, bawang putih, dan kemiri.
  • Sengatan Merica: Untuk menggantikan efek hangat dari pala atau bumbu barat, Krengsengan Solo menggunakan merica (lada) yang cukup kuat, memberikan sensasi hangat di tenggorokan.
  • Sentuhan Segar: Biasanya disajikan dengan irisan tomat segar dan cabai rawit utuh bagi mereka yang menyukai tantangan pedas.

Catatan Sejarah: Kuliner Solo adalah bukti nyata bagaimana masyarakat lokal tidak menelan mentah-mentah budaya kolonial, melainkan mengadopsinya secara cerdas menggunakan bahan-bahan lokal yang ada di sekitar mereka.

Di Mana Menemukannya Sekarang?

Kini, Krengsengan Solo menjadi salah satu buruan wajib para pencinta kuliner legendaris. Hidangan ini biasanya dapat ditemukan di warung-warung sate kambing legendaris di penjuru Kota Solo, atau di pasar tradisional seperti Pasar Gede pada pagi hari.

Bagi Anda yang berkunjung ke Solo, mencicipi Krengsengan bukan sekadar memanjakan lidah dengan rasa manis-gurihnya yang nagih, melainkan juga menikmati sepiring sejarah tentang bagaimana selera Eropa melebur sempurna dengan kearifan lokal Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....