Rahasia Tidur Dua Kali: Kebiasaan Manusia yang Hilang di Zaman Modern

  • 02 Jul 2026 20:27 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Sebelum abad ke-19, umat manusia ternyata tidak tidur dalam satu sesi panjang selama delapan jam seperti yang kita lakukan saat ini. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa nenek moyang kita terbiasa menjalani pola tidur bifasik, yaitu tidur pertama (first sleep) setelah matahari terbenam, terbangun di tengah malam, lalu dilanjutkan dengan tidur kedua (second sleep).

Periode terjaga di tengah malam tersebut biasanya berlangsung selama satu hingga dua jam yang penuh dengan kedamaian. Manusia zaman dulu memanfaatkan waktu luang di keheningan malam ini untuk membaca, berdoa, merenung, bahkan bersosialisasi dengan tetangga sebelum kembali merebahkan diri.

Fenomena unik ini perlahan mulai terkikis dan menghilang secara masif sejak terjadinya Revolusi Industri di Eropa. Kehadiran teknologi lampu penerangan jalan dan pencahayaan buatan di dalam rumah mengubah malam yang gulita menjadi terang benderang sekaligus memperpanjang waktu aktivitas manusia.

Lantas, apakah hilangnya pola tidur ini ada hubungannya dengan gejala insomnia akut yang sering dikeluhkan masyarakat modern? Para ahli menjelaskan bahwa gangguan tidur di tengah malam yang sering dianggap insomnia sebenarnya adalah sisa-sisa biologis dari memori tidur bifasik masa lalu yang berusaha muncul kembali.

Tubuh manusia secara alami masih memiliki jam biologis (ritme sirkadian) purba yang cenderung membagi waktu istirahat menjadi dua bagian. Namun, tuntutan gaya hidup modern, jam kerja yang kaku, dan stres yang tinggi memaksa kita untuk memadatkan seluruh waktu istirahat tersebut ke dalam satu sesi tunggal.

Paparan cahaya biru dari layar gawai dan lampu LED menjelang tidur juga memperparah kondisi ini dengan cara menekan produksi hormon melatonin secara drastis. Akibatnya, ketika seseorang terbangun di pukul dua pagi, mereka akan merasa cemas dan frustrasi karena berpikir mereka sedang menderita gangguan tidur.

Padahal, kecemasan berlebih itulah yang justru mengubah pola alami tubuh menjadi gangguan insomnia klinis yang melelahkan fisik dan mental. Tanpa sadar, ambisi dunia modern untuk terus produktif selama 24 jam telah mengubah ritme biologis alami yang sudah tertanam selama ribuan tahun.

Memahami sejarah tidur ini dapat membantu kita untuk tidak lagi panik ketika mendadak terbangun di kesunyian tengah malam. Menjauhkan diri dari layar ponsel dan menikmati keheningan sejenak adalah cara terbaik untuk menyatu kembali dengan warisan biologis nenek moyang kita.

Sumber
  • BBC Future: The Forgotten Medieval Habit of 'Two Sleeps' and Why Modern Society Suffer From Insomnia.
  • History.com: Can’t Sleep? Neither Could Our Ancestors: The History of Biphasic Sleep.
  • Virginia Tech Research: Ekirch’s Discovery: How Industrialization and Artificial Light Permanently Altered Human Sleep Patterns.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....