Pangan Lokal dalam Program MBG, Membangkitkan Ekonomi Petani Lokal Biak Numfor
- 26 Feb 2026 12:09 WIB
- Biak

RRI.CO.ID, Biak - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Biak Numfor tidak hanya memastikan asupan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi angin segar bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, khususnya para petani. Pemerintah tengah mendorong untuk memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai menu utama MBG, hal ini membuka peluang baru bagi petani untuk memasarkan hasil bumi mereka, sekaligus melestarikan kekayaan kuliner daerah.

Ketua Tani Merdeka Indonesia Biak Numfor, Arman Faknik, menyambut baik kebijakan penggunaan bahan lokal dalam dapur MBG. Menurutnya, ini adalah langkah strategis yang memberdayakan masyarakat lokal dan mengembangkan potensi sumber daya alam yang melimpah di Biak Numfor.
"Ini salah satu kebijakan yang cukup baik karena di mana kita akan memberdayakan masyarakat lokal untuk pengembangan potensi sumber daya alam yang dimiliki berupa keladi, singkong, sagu, kemudian ada melinjo atau genemo, ada sayur paku, dan bahan lokal lainnya" jelasnya.
Ia menambahkan bahwa bahan-bahan lokal ini sudah akrab dikonsumsi oleh anak-anak Biak Numfor. Jika bahan-bahan ini dibeli dari petani lokal dan digunakan di dapur MBG, dampaknya akan sangat besar. Petani lokal akan termotivasi untuk mengembangkan tanaman-tanaman lokal ini guna memenuhi kebutuhan dapur SPPG di Biak Numfor.
"Pemberdayaan ini harus didorong karena dipasar, kita lihat mama-mama kami yang menjual sayur-sayuran dan bahan pangan lokal lainnya di pasar mereka bisa terbantu juga penjualannya," Ujarnya, menyoroti dampak positif pendapatan para pedagang kecil di pasar.

Seperti kata Mama Martince Brabar, salah satu penjual keladi dan sayur-sayuran di Pasar Darfuar Biak, Ia berharap Semoga dengan pemanfaatan pangan lokal untuk MBG bisa membantu para penjual lokal di pasar tradisional.
Agar hasil kebun yang biasanya ia bawa dari Kampung Dernafi Biak Utara bisa habis terjual.
"Kami berkebun di kampung Dernafi Biak Utara menanam keladi, petatas, dan sayur, tanaman kami murni tanpa bahan kimia jadi pasti sehat dan bergizi cocok untuk MBG."ungkapnya.

Implementasi menu lokal dalam program MBG juga telah berjalan di beberapa sekolah. Kepala SMP Negeri 2 Biak, Suarmi Madjid, menyampaikan bahwa program MBG di sekolahnya telah berjalan lancar sejak 17 November 2025, melayani 755 murid dan 49 guru serta staf.
"Selama ini, saya melihat bahwa pelayanan cukup bagus, tepat waktu, dan kami di sekolah juga sudah menyiapkan petugas MBG yang melayani para murid," ujarnya.
Mengenai makanan lokal, SMP Negeri 2 Biak sudah menyajikan keladi tumbuk, petatas rebus, dan sayur singkong. "Alhamdulillah kami juga sangat senang karena dengan memberikan makanan menu lokal ini, berarti kan kita juga melestarikan kearifan lokal," ucapnya.

Murid-murid pun menunjukkan antusiasme yang tinggi. Salah satu siswi, Insoraki Batseba Warapit, mengungkapkan kegembiraannya. "Hari ini saya telah mendapatkan MBG, saya sangat senang sekali dan sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden yang telah memberikan program MBG, karena MBG ini dapat membuat kami menambah gizi dan juga menambah fokus dalam belajar. Saya sangat senang juga karena ada menu-menu lokal, yaitu ada keladi tumbuk, ada ikan saus, itu sangat enak," Ungkapnya dengan gembira.

Namun, layaknya sebuah perjalanan, MBG juga menghadapi tantangan. Yuanita Cristiani, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wapnor menjelaskan terkait regulasi menu pangan lokal dari Provinsi Papua. Idealnya, menu makanan lokal akan dikenalkan satu periode sekali. Hal ini untuk mengalihkan ketergantungan pada nasi, seperti konsep "One Day No Rice," dengan memanfaatkan karbohidrat lokal seperti petatas, keladi, atau jagung rebus.
Namun, Yuanita juga mengakui adanya tantangan dalam ketersediaan suplai bahan baku lokal. "Beberapa periode ini kita juga mengalami mungkin pengurangan suplai bahan baku, karena kita menunggu petatas atau keladi ini tumbuh juga agak memakan waktu," jelasnya.
Untuk protein hewani, telur menjadi pilihan lokal. SPPG Wapnor telah mengambil telur dari peternak lokal sejak September 2025 hingga saat ini. Namun, penggunaannya tidak terlalu sering karena pertimbangan fokus pada menu kering dan menjaga keseimbangan suplai untuk masyarakat umum.
"Kita tidak menghabiskan stok telur, namun ketika produksi telur mungkin berkurang atau entah yang dialami peternak ya kemungkinan entah itu sakit, entah itu ada halangan lain di peternak, kita tidak tahu sehingga produksinya menurun, ini juga salah satu kendala," ungkapnya.
Namun Keseimbangan antara kebutuhan dapur MBG dan pasokan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Program Makan Bergizi Gratis dengan pemanfaatan bahan lokal di Biak Numfor menunjukkan potensi besar dalam menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, dan seluruh elemen masyarakat, program ini diharapkan dapat terus berkembang, memberikan manfaat gizi bagi generasi muda, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal Biak Numfor.