BMKG: Musim Kemarau 2026 Diperkirakan Lebih Awal dan Lebih Kering

  • 05 Mar 2026 09:38 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dari biasanya. Kondisi ini dipengaruhi berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026 yang kini berada pada fase Netral, dengan potensi berkembang menjadi El Nino Lemah hingga Moderat pada pertengahan tahun.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, melalui rilis siaran persnya pada Rabu, 4 Maret 2025, menjelaskan bahwa indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau dalam kondisi Netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026. Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada fase Netral sepanjang tahun.

BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebutkan sebanyak 184 zona musim atau 26,3 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada Mei, dan 163 zona musim atau 23,3 persen pada Juni 2026. Secara keseluruhan, awal musim kemarau di 325 zona musim atau sekitar 46,5 persen wilayah diprediksi datang lebih awal dari normalnya.

Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat antara lain sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku hingga sebagian wilayah Papua.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Sementara sebagian wilayah lainnya diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Juli dan September.

Selain itu, sifat musim kemarau tahun 2026 diperkirakan lebih kering dari biasanya di sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia dan normal di sekitar 35,1 persen wilayah. Kondisi ini berpotensi membuat durasi musim kemarau di lebih dari separuh wilayah Indonesia menjadi lebih panjang dari biasanya.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, kementerian, serta masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi. Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan dan hemat air.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air perlu diperkuat melalui perbaikan jaringan distribusi dan revitalisasi waduk guna memastikan ketersediaan air bersih dan kebutuhan energi.

BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan serta penurunan kualitas udara selama musim kemarau.

BMKG menegaskan bahwa informasi ini merupakan peringatan dini agar seluruh pihak dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal untuk mengurangi risiko kekeringan di Indonesia.

Rekomendasi Berita