Mengapa Pameran Buku Tetap Penting di Era Digital? Ini Penjelasannya
- 04 Okt 2026 16:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pameran buku menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan membaca melalui layar digital dengan memberikan kesempatan menyentuh dan membaca buku secara langsung.
- Pameran buku berperan sebagai ruang pertemuan antara pembaca, penulis, penerbit, dan komunitas untuk bertukar gagasan melalui diskusi dan kegiatan literasi.
- Pameran buku tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi belanja bacaan, tetapi juga sebagai platform edukasi dan pengembangan minat baca masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah kebiasaan membaca melalui layar, mengunjungi pameran buku menawarkan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat. Rak-rak buku yang dapat disentuh dan dibaca langsung menghadirkan ruang untuk menjelajah tanpa bergantung pada rekomendasi algoritma.
Pameran buku juga bukan sekadar tempat untuk membeli bacaan. Kegiatan tersebut mempertemukan pembaca dengan penulis, penerbit, komunitas, serta berbagai gagasan melalui diskusi dan kegiatan literasi.
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebut buku sebagai jembatan yang menghubungkan generasi serta berbagai budaya. Buku membantu masyarakat memperoleh pengetahuan, memahami budaya, dan mengenal berbagai gagasan dari berbagai penjuru dunia.
Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses dan menikmati bahan bacaan. Namun, perubahan tersebut tidak menghilangkan peran buku dalam mendukung pembelajaran dan perkembangan literasi.
Teoritikus media asal Amerika Serikat, Douglas Rushkoff, menilai buku menciptakan ruang alternatif bagi otak. Menurutnya, membaca buku memberikan pengalaman berbeda bagi anak-anak dan peluang pengembangan diri dibandingkan penggunaan media interaktif.
“Setiap lingkungan media menawarkan peluang pengembangan diri yang positif dan bermanfaat. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan di tempat dan waktu yang tepat,” katanya dikutip dari laman UNESCO, Minggu, 4 Oktober 2026.
Manfaat tersebut dapat ditemukan melalui penyelenggaraan pameran buku yang mempertemukan masyarakat dengan berbagai bacaan. Pengunjung juga dapat menemukan buku dari berbagai penerbit dalam satu tempat.
Kegiatan pameran tidak hanya menawarkan transaksi buku kepada masyarakat. Berbagai agenda pendukung juga dapat mempertemukan pembaca dengan penulis dan pelaku industri perbukuan.
Pertemuan tersebut memberikan kesempatan kepada pembaca untuk berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai buku. Interaksi langsung juga dapat membangun komunitas berdasarkan ketertarikan terhadap bacaan tertentu.
Pameran buku turut memberikan ruang bagi penerbit untuk memperkenalkan karya kepada pembaca secara langsung. Penerbit juga dapat mengetahui minat pembaca melalui interaksi selama kegiatan berlangsung.
UNESCO mencatat pameran buku dapat mendukung promosi industri buku dan penerbitan nasional. Pameran dapat mempertemukan penerbit, penulis, distributor, perpustakaan, komunitas, dan pembaca.
UNESCO juga menekankan pentingnya literasi dalam menghadapi perubahan pada era digital. Literasi saat ini mencakup kemampuan membaca sekaligus memahami informasi dalam lingkungan digital.
Karena itu, pameran buku dapat menjadi ruang untuk menghubungkan budaya membaca dengan perkembangan teknologi. Masyarakat dapat menikmati buku secara fisik sekaligus mengenal berbagai bentuk literasi digital.
Salah satu agenda perbukuan yang berlangsung di Indonesia adalah Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Pameran buku ini berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan.
IIBF 2026 menghadirkan diskusi, peluncuran buku, pelatihan, seminar, pertunjukan, pertemuan komunitas, dan penulis. Rangkaian tersebut menunjukkan pameran buku tetap menjadi ruang penting untuk bertemu, belajar, dan bertukar gagasan. (Davina Keisha Salsabila)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....