Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan? Ini Penyebabnya

  • 22 Sep 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Api yang terlihat di permukaan selama kebakaran hutan dan lahan hanya sebatas padam, sementara api dapat merambat ke dalam lapisan tanah gambut yang lebih dalam.
  • Lahan gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami pembusukan tidak sempurna, membentuk material organik yang menumpuk dalam lapisan tanah.
  • Ketebalan lahan gambut dapat mencapai beberapa meter, memungkinkan api merambat dan tersembunyi di bawah permukaan tanah untuk waktu yang lama.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kobaran api yang terlihat saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa saja hanya sebatas padam di permukaan. Pada lahan gambut, api dapat merambat hingga masuk ke lapisan tanah.

Melansir dari berbagai sumber, lahan gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami pembusukan secara tidak sempurna. Material organik tersebut kemudian menumpuk dalam lapisan tanah dengan ketebalan yang dapat mencapai beberapa meter.

Karakter gambut yang berpori membuat air dan udara dapat bergerak melalui ruang-ruang di dalam lapisannya. Struktur tersebut membuat proses kebakaran memiliki pola berbeda dibandingkan kebakaran pada tanah mineral.

Kebakaran gambut juga menghasilkan asap dalam jumlah besar karena material organik terbakar secara perlahan dan tidak sempurna. Asapnya dapat mengurangi jarak pandang serta menyulitkan petugas mengidentifikasi lokasi sumber api secara tepat.

Selain faktor alamiah, aktivitas manusia juga dapat memperparah risiko kebakaran. Pembukaan lahan dan pengeringan gambut dapat meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran.

Ketika gambut mengering, sisa akar, daun, batang, dan material organik lainnya menjadi bahan bakar yang mudah menyala. Kondisi tersebut membuat api memiliki persediaan material untuk terus membakar lapisan gambut.

Kebakaran gambut juga tidak hanya berlangsung di permukaan, tetapi dapat merambat masuk menuju lapisan tanah. Api dapat menyebar melalui bagian dalam gambut sehingga titik kebakaran sulit terlihat dari permukaan.

Melansir dari Universitas Ma’soem, kebakaran membara atau smoldering fire dapat terus berlangsung tanpa menghasilkan kobaran besar. Kondisi ini memungkinkan kebakaran kembali muncul ketika gambut masih kering.

Air menjadi unsur penting dalam proses pemadaman karena gambut perlu dibasahi hingga bagian yang terbakar. Keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju lokasi menjadi tantangan pemadaman.

Kondisi semakin sulit ketika muka air gambut mengalami penurunan sehingga lapisan tanah menjadi lebih kering. Kekeringan dapat memperbesar risiko kebakaran karena gambut kehilangan kondisi basah yang membantu mencegah api.

Selain pemadaman, pengelolaan air menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran gambut kembali terjadi. Menjaga tinggi muka air gambut tetap kurang dari 40 sentimeter menjadi salah satu langkah pencegahan.

Pembasahan kembali gambut dapat membantu mempertahankan kelembapan dan mengurangi potensi material organik terbakar. Selain itu, pemantauan lahan dan edukasi masyarakat juga diperlukan untuk mencegah karhutla. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....