Plastik Singkong, Inovasi Lokal yang Bisa Terurai Lebih Cepat

  • 16 Agt 2026 18:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Plastik masih menjadi persoalan lingkungan utama karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai di alam.
  • Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI di Bandung mengembangkan bioplastik menggunakan pati tapioka dari singkong sebagai bahan baku utama.
  • Pengembangan bioplastik berbahan singkong merupakan inovasi untuk menciptakan alternatif plastik yang ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami.

RRI.CO.ID, Jakarta – Plastik masih menjadi salah satu persoalan lingkungan karena membutuhkan waktu lama untuk terurai. Di tengah masalah tersebut, singkong mulai dimanfaatkan sebagai bahan alternatif melalui pengembangan bioplastik.

Salah satu pengembangannya dilakukan Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI di Bandung. Peneliti mengembangkan bioplastik menggunakan pati dari tapioka atau singkong sebagai bahan dasarnya.

Singkong dipilih karena patinya mengandung polimer alami yang dapat membentuk material menyerupai plastik. Bahan tersebut juga dapat diuraikan oleh mikroorganisme sehingga berpotensi menjadi alternatif plastik konvensional.

Berbeda dengan plastik berbasis minyak bumi, bioplastik berbahan pati memiliki kemampuan terurai secara biologis. Namun, lama proses penguraiannya tetap bergantung pada komposisi bahan dan kondisi lingkungan.

Penelitian mengenai bioplastik pati singkong juga terus dilakukan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanannya. Salah satunya dengan menambahkan selulosa untuk memperbaiki sifat mekanik material tersebut.

Pengembangan bioplastik tidak hanya memanfaatkan pati dari singkong. Limbah kulit singkong juga telah diteliti sebagai bahan alternatif untuk menghasilkan material bioplastik.

Pemanfaatan kulit singkong menjadi menarik karena bagian tersebut biasanya hanya dianggap sebagai limbah. Kandungan pati yang masih tersisa membuatnya berpotensi digunakan sebagai bahan pembuatan bioplastik.

Inovasi berbasis singkong juga sudah masuk ke ranah industri. Enviplast, misalnya, mengembangkan material biopolimer berbahan singkong, jagung, dan pati alami lainnya untuk berbagai kebutuhan.

Pengembangan produk berbasis singkong tersebut bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Pemerintah pernah mencatat pengembangan Enviplast dimulai sejak 2006 dan produknya diperkenalkan pada 2011.

Material bioplastik berbasis singkong kemudian digunakan untuk berbagai produk. Penggunaannya antara lain mencakup kantong belanja, kemasan, dan sejumlah kebutuhan yang sebelumnya menggunakan plastik konvensional.

Meski terdengar sederhana, membuat bioplastik dari pati singkong bukan sekadar mencampurkan tepung dengan bahan tertentu. Peneliti perlu mengatur komposisi agar material memiliki kekuatan, kelenturan, dan ketahanan air yang sesuai.

Tantangan tersebut menjadi salah satu alasan penelitian bioplastik masih terus dilakukan. Material berbasis pati memiliki sifat mudah menyerap air sehingga perlu dikembangkan agar lebih sesuai untuk penggunaan tertentu.

Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan material semacam ini karena singkong merupakan salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan. Ketersediaan bahan baku juga membuka peluang pemanfaatan hasil pertanian untuk kebutuhan industri.

Meski begitu, bioplastik bukan berarti persoalan sampah plastik langsung selesai. Penggunaan bahan alternatif tetap perlu diikuti pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah, dan sistem pengolahan yang tepat.

Dari bahan yang selama ini lebih dikenal sebagai makanan, singkong ternyata punya fungsi lain di bidang teknologi. Pengembangan bioplastik menunjukkan bahwa bahan lokal dapat menjadi bagian dari upaya mencari alternatif terhadap plastik konvensional. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....