Bapanas Dorong Hilirisasi Singkong di Bogor

  • 26 Apr 2026 11:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bapanas dorong hilirisasi singkong melalui bantuan alat ke UMKM di Bogor
  • Bantuan mesin ubah produksi dari tradisional menjadi semi modern
  • Kapasitas produksi meningkat hingga 12 ton per hari dengan mesin pengering
  • Penguatan rantai pasok hubungkan petani, UMKM, dan koperasi
  • Hilirisasi jadi bagian diversifikasi pangan untuk kurangi ketergantungan impor

RRI.CO.ID, Kabupaten Bogor - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat hilirisasi singkong melalui bantuan peralatan pengolahan kepada UMKM. Langkah ini dilakukan di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kamis 23 April 2026.

Bantuan mencakup mesin parut, pencuci, pengering, hingga sistem penirisan terintegrasi. Dukungan ini mendorong produksi dari pola tradisional menuju sistem semi modern.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto mengatakan penguatan UMKM menjadi strategi pembangunan pangan. Intervensi dilakukan dari hulu hingga hilir.

“Dengan dukungan mesin pengering, kapasitas produksi dapat mencapai sekitar satu ton per jam atau hingga 12 ton per hari,” ucapnya.

Ia menambahkan penguatan rantai pasok juga menjadi fokus utama. Hasil panen petani diserap UMKM, lalu diproses dan didistribusikan melalui koperasi.

“Pola ini menjaga kesinambungan produksi sekaligus kualitas produk,” katanya.

Menurutnya, pengembangan singkong bagian dari diversifikasi pangan nasional. Komoditas lokal seperti ubi kayu perlu didorong untuk mengurangi ketergantungan impor.

Di lapangan, pelaku UMKM mulai merasakan dampaknya. Produksi yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih efisien dan konsisten.

Salah satu pelaku usaha, Andi, menyebut permintaan tepung tapioka terus meningkat. Produk olahan dinilai berpeluang masuk ke berbagai segmen pasar.

“Dengan pengolahan lebih baik, kami optimistis bisa memenuhi kebutuhan pasar,” ucapnya.

Penerima manfaat lainnya, Khoirudin, mengaku kapasitas produksi meningkat signifikan. Dari sebelumnya satu hingga dua ton per hari, kini mencapai sekitar lima ton per hari.

“Sekarang sudah otomatis pakai mesin listrik,” ucapnya.

Penguatan ini juga mendorong nilai tambah komoditas lokal. Selama ini, singkong di Kabupaten Bogor banyak dijual dalam bentuk mentah.

Melalui pengolahan, komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Produk juga berpotensi masuk dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis.

Bapanas menegaskan akan terus mendorong penguatan UMKM pangan. Upaya ini untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....