Robot dari Limbah Plastik Antar Siswa SMAN 28 Raih Prestasi Tingkat Internasional

  • 04 Agt 2026 04:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dua siswa SMAN 28 Jakarta, Dryantama Sucipto dan Pande Nyoman, berhasil mengembangkan robot inovatif dari limbah sampah plastik bekas.
  • Robot yang dibuat dari bahan daur ulang ini telah membawa prestasi siswa pada berbagai kompetisi internasional.
  • Inovasi ini membuktikan bahwa bahan limbah bekas dapat diubah menjadi teknologi bernilai tinggi dan membuka peluang bagi generasi muda untuk berinovasi.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kreativitas mengolah limbah sampah plastik menjadi robot, mengantarkan siswa meraih prestasi pada berbagai kompetisi internasional. Inovasi tersebut membuktikan bahan bekas dapat diubah menjadi teknologi bernilai tinggi.

Hal itu disampaikan dua siswa penggiat robotik di SMAN 28 Jakarta dalam wawancara mengenai inovasi berbasis daur ulang. Mereka adalah Dryantama Sucipto dan Pande Nyoman yang telah berhasil mengembangkan robot dari bahan bekas tidak terpakai.

"Awalnya kami memanfaatkan pipa PVC bekas karena biaya pembuatan robot cukup mahal. Hasilnya justru mampu bersaing pada berbagai kompetisi," ujar Pande Nyoman saat diwawancarai RRI, di SMAN 28 Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Awal Mula Terciptanya Robot Daur Ulang

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari proses panjang yang telah dimulai sejak mereka pertama mengenal robotika di sekolah. Saat itu, guru Informatika dan Coding SMAN 28 Jakarta, Muhammad Arif Harahap membantu mengembangkan pembelajaran berbasis pemanfaatan limbah.

Arif mengatakan, gagasan tersebut berawal dari diskusi bersama pegiat daur ulang, Bob Novandy. Pembahasan tersebut mengenai bagaimana memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai guna.

"Dalam pembicaraan dengan Pak Bob, yakni bagaimana kita memanfaatkan sampah anorganik ini menjadi sebuah mainan dan bagian dari robotik. Setelah terpikir, ikutlah tim dalam suatu event dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan dibaurkan dengan teknologi robotik, sehingga bermanfaat," katanya.

Dari pembahasan tersebut, penggiat daur ulang, Bob Novandy, memberikan tantangan kepada para siswa membuat mobil mainan berbahan botol plastik bekas. "Bapak bisa membuat daur ulang seperti ini, coba kalian bisa sampai sejauh mana," kata Pak Bob kepada Pande dan Dryantama.

Dengan arahan Pak Arif, mobil berbahan botol bekas itu disulap menjadi mainan yang dapat dikendalikan menggunakan kendali jarak jauh. Hal inilah yang dan menjadi cikal bakal berbagai inovasi robotik menggunakan bahan daur ulang.

Bersama rekannya, ia terus memanfaatkan berbagai bahan bekas untuk menghasilkan robot dengan biaya lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas. "Kami mencoba melihat limbah bukan sebagai sampah, tetapi sebagai material yang masih bisa dimanfaatkan," katanya.

Mengikuti Berbagai Macam Komepetisi Robotik

Pengalaman itu akhirnya mendorong mereka mengikuti kompetisi robot sepak bola di Surabaya dan Bandung. Hasil uji coba dengan menggunakan barang tak terpakai menunjukkan rangka PVC lebih kuat dibanding sejumlah material lain.

Hasil dari kepercayaan diri mereka pun berlanjut hingga akhirnya meraih hasil gemilang di acara kompetisi robotik di Malaysia. Robot berbahan PVC yang sebelumnya telah dikembangkan, berhasil meraih juara kedua pada ajang robotik bergengsi tersebut.

"Pada saat perlombaan, para juri melihat limbah memiliki nilai lebih jika diolah menjadi teknologi. Juri juga memberikan penilaian tambahan terhadap inovasi berbasis daur ulang," katanya.

Keberhasilan tersebut memotivasi mereka mengembangkan inovasi baru berbasis limbah organik. Saat ini, tim robotik SMAN 28 tengah merancang robot pembuat pestisida alami menggunakan metode pirolisis.

Tantangan dan Proses Belajar Dunia Robotik

Dryantama Sucipto, sahabat Pande, mengatakan proses pengembangan robot tidak lepas dari tantangan keterbatasan pengetahuan dan biaya. Kondisi tersebut mendorong tim memanfaatkan berbagai sumber belajar secara mandiri.

"Kami banyak belajar melalui YouTube, GitHub, dan kecerdasan buatan atau AI. Teknologi itu membantu kami memahami berbagai konsep dengan lebih cepat," ujarnya.

Meski demikian, Dryantama menilai AI hanya menjadi sarana pendukung dalam proses belajar. Pemahaman dasar tetap diperlukan agar setiap inovasi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

"AI membantu mempercepat proses belajar, tetapi kami tetap harus memahami konsep dasarnya. Dengan begitu, kami bisa mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan," ucapnya.

Pande dan Dryantama berharap semakin banyak pelajar berani memanfaatkan limbah sebagai bahan inovasi teknologi. Menurut mereka, keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....