Bahaya Sampah Plastik bagi Ekosistem Laut dan Cara Menguranginya

  • 25 Jul 2026 22:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sampah plastik merupakan limbah utama di laut Indonesia yang dapat bertahan puluhan hingga ratusan tahun di lingkungan laut.
  • Plastik terurai menjadi mikroplastik berukuran sangat kecil yang mudah masuk ke rantai makanan dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
  • Hewan laut seperti penyu, paus, lumba-lumba, dan burung laut sering tertelan atau terjerat plastik, menyebabkan gangguan pencernaan hingga kematian.
  • Mikroplastik dikonsumsi ikan dan memiliki potensi mengganggu kesehatan organisme serta merusak habitat penting seperti terumbu karang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Laut yang menjadi sumber kehidupan kini menghadapi ancaman serius akibat tumpukan sampah plastik yang terus meningkat. Limbah tersebut tidak hanya mencemari perairan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup berbagai biota laut
Melansir dari berbagai sumber, sampah plastik menjadi salah satu limbah yang banyak ditemukan di lautan Indonesia maupun dunia. Material ini sulit terurai sehingga dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun di lingkungan laut.
Berbagai penelitian menunjukkan plastik yang terbuang akan pecah menjadi mikroplastik berukuran sangat kecil seiring waktu. Partikel tersebut kemudian mudah masuk ke rantai makanan dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara menyeluruh.
Hewan laut seperti penyu, paus, lumba-lumba, hingga burung laut sering kali mengira plastik sebagai makanan alami. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan, kelaparan, bahkan kematian akibat makanan yang tercemar.
Selain tertelan, sampah plastik juga dapat menjerat berbagai satwa laut ketika mereka mencari makan atau bermigrasi. Jeratan tersebut menghambat pergerakan hewan, meningkatkan risiko luka, dan menurunkan peluang mereka untuk bertahan hidup.
Plastik yang terpapar sinar matahari dan gelombang laut perlahan berubah menjadi mikroplastik berukuran sangat kecil. Mikroplastik dapat dikonsumsi ikan dan berpotensi mengganggu kesehatan organisme serta ekosistem pesisir.
Keberadaan sampah plastik juga merusak habitat penting seperti terumbu karang, padang lamun, dan kawasan mangrove. Ekosistem tersebut memiliki peran besar sebagai tempat berkembang biak, mencari makan, serta berlindung berbagai biota laut.
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat juga dapat membawa tas belanja, botol minum, dan wadah makanan yang dapat digunakan berulang kali.
Selain itu, masyarakat dapat memilah dan mendaur ulang sampah, serta membersihkan pantai untuk mengurangi pencemaran laut. Kolaborasi masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas menjadi kunci menjaga kelestarian laut bagi generasi mendatang. (Shafa)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....