ketika Energi, Merajut Asa di tengah Pemulihan SMPN 19
- 01 Okt 2026 17:22 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Pagi kembali terasa seperti biasanya di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu. Suara langkah kaki siswa, percakapan kecil di antara teman, hingga suara guru yang menyampaikan pelajaran kembali memenuhi ruang-ruang belajar.
Tidak ada lagi pembagian waktu belajar pagi dan siang. Tidak ada lagi siswa yang harus bergantian menggunakan ruang kelas karena keterbatasan tempat.
Namun, suasana normal itu bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah.
Sebelumnya, kebakaran pada 24 Juli 2026 menghanguskan enam ruang kelas, satu ruang OSIS dan satu gudang sekolah. Sebanyak 192 siswa pun harus beradaptasi dengan kondisi sekolah yang kehilangan sebagian ruang belajarnya.
Keterbatasan ruang membuat kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan sistem dua shift. Sebagian siswa belajar pada pagi hari, sementara lainnya baru mengikuti pembelajaran pada siang hari.
Bagi siswa, perubahan itu bukan sekadar soal waktu belajar. Kebersamaan di dalam kelas pun ikut berubah.
Kini, suasana tersebut perlahan kembali seperti semula setelah Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Fuel Terminal Pulau Baai menghadirkan ruang kelas darurat bagi sekolah.
Empat tenda yang disediakan dimanfaatkan sepenuhnya sebagai ruang belajar. Lengkap dengan fasilitas pendukung, ruang sementara itu menjadi tempat siswa kembali menata rutinitas belajar mereka.
Bagi Septarianto Evan, salah seorang siswa SMP Negeri 19 Kota Bengkulu, perubahan itu terasa sederhana, tetapi berarti.
Ia kembali bisa duduk bersama teman-temannya dalam satu jadwal pembelajaran. Bisa belajar tanpa harus menunggu giliran dan tanpa harus memikirkan apakah ruang kelas cukup untuk digunakan.
“Dulu karena ruang kelas terbatas, kami harus belajar dengan jadwal yang berbeda. Sekarang sudah bisa belajar bersama teman-teman seperti biasa. Rasanya lebih nyaman dan kami bisa lebih fokus mengikuti pelajaran,” ujar Septarianto, Kamis, 1 Oktober 2026.
Di balik kesederhanaan sebuah ruang belajar sementara, ada semangat anak-anak yang kembali tumbuh.
Mereka mungkin belum kembali menempati ruang kelas permanen seperti sebelum kebakaran. Tetapi, kesempatan untuk belajar bersama dan menjalani hari-hari sekolah secara normal telah kembali.
Hal serupa juga dirasakan para guru. Guru SMP Negeri 19 Kota Bengkulu, Aurelia Aysha, mengakui keberadaan ruang belajar darurat membuat proses pembelajaran jauh lebih teratur. Guru tidak lagi harus menyesuaikan materi dan jadwal dengan pembagian shift pagi dan siang.
“Setelah adanya kelas darurat, kegiatan belajar mengajar menjadi lebih teratur. Kami sebagai guru bisa kembali mengajar sesuai jadwal dan tidak perlu membagi siswa dalam shift pagi dan siang. Anak-anak juga terlihat lebih bersemangat karena bisa kembali belajar bersama teman-temannya,” ungkap Aurelia.
Bagi sekolah, ruang darurat tersebut bukan sekadar tenda. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan masa sulit setelah kebakaran dengan harapan untuk kembali memiliki sekolah yang utuh.
Sebab, pendidikan tidak bisa menunggu sampai semua keadaan benar-benar sempurna. Di tengah keterbatasan sekalipun, proses belajar harus tetap berjalan.
Pemulihan SMP Negeri 19 Kota Bengkulu sendiri masih berlanjut. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memulai pembangunan kembali ruang kelas permanen yang sebelumnya terdampak kebakaran.
Sambil menunggu fasilitas permanen selesai dibangun, empat ruang belajar darurat itu menjadi bagian penting dari perjalanan sekolah untuk bangkit.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan dukungan tersebut diberikan agar proses pendidikan tetap berjalan selama sekolah berada dalam masa pemulihan.
“Bagi kami, yang paling penting dari dukungan ini bukan hanya tersedianya ruang belajar sementara, tetapi bagaimana siswa dapat kembali belajar dengan lebih teratur dan guru dapat menjalankan proses pembelajaran dengan baik. Kami berharap dukungan ini dapat membantu sekolah melewati masa pemulihan hingga fasilitas permanen kembali tersedia,” ujar Rusminto.
Kini, dari ruang-ruang belajar sementara itu, suara anak-anak kembali terdengar. Ada pelajaran yang ditulis di papan, ada buku yang dibuka, ada pertanyaan yang dijawab, dan ada cita-cita yang terus disusun.
Kebakaran mungkin telah mengambil sebagian ruang belajar mereka. Tetapi tidak dengan semangat untuk terus belajar.
Sebab bagi siswa SMP Negeri 19 Kota Bengkulu, kembali duduk bersama di ruang kelas bukan hanya tentang kembali normalnya kegiatan sekolah.
Lebih dari itu, ia adalah tanda bahwa setelah kehilangan, selalu ada jalan untuk bangkit dan melanjutkan langkah menuju masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....