Pemkot Bengkulu Perkuat Mitigasi Bencana Hadapi Cuaca Ekstrem

  • 15 Sep 2026 12:28 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pemerintah Kota Bengkulu memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dipicu kondisi cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dengan tema “Sinergi Lintas Sektor dalam Upaya Penguatan Mitigasi Risiko Dampak Bencana di Wilayah Kota Bengkulu” di Grage Hotel Bengkulu, Senin 14 September 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda Kota Bengkulu, Ketua DPRD Kota Bengkulu, Kapolresta Bengkulu, Dandim 0407/Bengkulu. Kepala Kejaksaan Negeri, Kepala Pengadilan Negeri, Pj Sekda, para Asisten, Staf Ahli, kepala organisasi perangkat daerah, camat hingga lurah se-Kota Bengkulu.

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengatakan, rapat tersebut menjadi langkah pemerintah dalam merespons sejumlah kondisi yang berkembang di lapangan. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan, dampak erupsi Gunung Anak Krakatau hingga kekeringan yang mulai menyebabkan sebagian masyarakat kesulitan memperoleh air bersih.

“Ini merespons tentang kejadian terakhir. Yang pertama karhutla, yang kedua erupsi Anak Krakatau, yang ketiga kemarau ini belum menampakkan tanda-tanda akan hujan dan sudah beberapa lokasi yang kekeringan,” kata Dedy.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah mulai berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah. Kecamatan Muara Bangkahulu menjadi salah satu daerah yang terdampak, terutama akibat menurunnya debit air sungai yang berpengaruh terhadap operasional jaringan air bersih, kondisi tersebut diperparah dengan mulai mengeringnya sumur dangkal milik masyarakat di sejumlah kawasan perumahan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dedy meminta Perumda Tirta Hidayah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu meningkatkan kesiapsiagaan dan memastikan distribusi air bersih dapat dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan masyarakat. “Apa respons kita dari Pemerintah Kota Bengkulu? PDAM saya minta untuk siaga, untuk standby, bilamana memang kurang tangki, BPBD punya tangki untuk membantu menyuplai air. Jangan sampai masyarakat nanti sudah viral baru sampai,” ujarnya.

Menurut Dedy, penanganan bencana tidak boleh menunggu persoalan membesar. Pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan harus mampu mendeteksi kondisi masyarakat sejak awal dan segera melaporkannya agar bantuan dapat diberikan dengan cepat.

Selain kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan serta kebakaran permukiman juga menjadi perhatian. Kebakaran lahan seluas hampir satu hektare di kawasan Bentiring, ditambah sejumlah kejadian kebakaran di fasilitas umum, menjadi peringatan agar kewaspadaan masyarakat terus ditingkatkan selama musim kemarau.

Dedy meminta camat dan lurah aktif menyampaikan imbauan kepada masyarakat, khususnya agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. “Kepada Bapak Camat, Lurah di sini, tolong sering-sering di grup RT ingatkan, tolong kita semua waspada, jangan ada yang membakar lahan ataupun kalau bakar sampah tolong hati-hati,” tuturnya.

Ia menilai kecepatan petugas Pemadam Kebakaran dan kepolisian dalam merespons kejadian kebakaran patut diapresiasi. Namun, menurutnya, upaya pencegahan harus menjadi perhatian utama karena sebagian besar risiko kebakaran dapat ditekan melalui kewaspadaan masyarakat.

Pemkot Bengkulu juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik sempat berpotensi terbawa angin hingga ke wilayah Bengkulu. Dedy meminta Dinas Kesehatan bersama BPBD memastikan ketersediaan masker medis sebagai langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan paparan abu vulkanik.

Rapat FGD Forkopimda juga membahas dampak kondisi cuaca terhadap ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat. Dinas Pangan dan Dinas Perikanan diminta melakukan pemantauan secara rutin terhadap stok bahan pangan serta hasil tangkapan nelayan.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya pasokan akibat kondisi cuaca laut yang tidak menentu. Apabila terjadi kenaikan harga komoditas yang signifikan, Pemkot Bengkulu menyiapkan langkah intervensi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM).

Di sisi lain, penguatan sistem deteksi dini di tingkat kelurahan juga menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana. Pemkot mendorong kolaborasi Babinsa, Bhabinkamtibmas dan petugas Prabawa yang berada di setiap kelurahan untuk bersama-sama memantau kondisi lingkungan serta melakukan penanganan awal ketika terjadi situasi darurat.

Dedy menegaskan, penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan satu organisasi perangkat daerah. Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah, aparat keamanan hingga masyarakat agar setiap potensi bencana dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Dengan penguatan koordinasi tersebut, Pemkot Bengkulu berharap berbagai risiko akibat cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran maupun dampak aktivitas vulkanik dapat ditekan. Kebutuhan dasar, keselamatan dan kenyamanan masyarakat menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi cuaca yang masih belum menentu.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....