Cita Rasa Kopi Tradisional yang Bertahan di Bengkulu
- 27 Agt 2026 14:03 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Di tengah berkembangnya budaya minum kopi dengan beragam pilihan rasa dan metode penyajian, cita rasa kopi tradisional masih memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat. Di Kota Bengkulu, salah satu tradisi tersebut masih bertahan melalui proses pengolahan biji kopi yang dilakukan secara turun-temurun.
Salah satu pemilik Toko Kopi di Pasar Panorama Kota Bengkulu, Desi Ratna Sari, mengatakan karakter rasa kopi sangat dipengaruhi oleh proses pengolahannya. Karena itu, metode yang diwariskan dari generasi sebelumnya tetap dipertahankan.
Dimana usaha pengolahan kopinya telah berjalan sejak 1990. Selama puluhan tahun itu pula, proses pengolahan yang dilakukan tidak banyak berubah, terutama dalam menjaga karakter rasa kopi setelah melalui proses pemanggangan.
Untuk bahan baku kopi diperoleh dari pedagang pengumpul di Bengkulu. Dimana biji kopi tersebut berasal dari sejumlah daerah dan kemudian diolah menjadi kopi bubuk jenis Robusta maupun Arabika.
“Kalau kami, pengolahannya turun-temurun. Memang ada pengolahan tersendiri yang berbeda,” ujar Desi.
Menurutnya, salah satu tahapan yang masih dipertahankan adalah proses pemanggangan menggunakan panggangan berbahan kayu. Untuk biji kopi dipanggang dalam jumlah banyak selama sekitar satu hingga dua jam hingga mencapai tingkat kematangan yang diinginkan.
Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan penggilingan biji kopi hingga menjadi bubuk. Dari proses itu lah disampaikannya, karakter kopi mulai terasa, mulai dari aroma hasil sangrai hingga rasa pekat yang menjadi ciri kopi tradisional yang biasa dinikmati masyarakat.
Penulis : Beta Mahasiswa Magang UMB.
Dalam sehari, diakui, pengolahan dapat menghasilkan sekitar 60 kilogram kopi bubuk. Apalagi untuk harga yang ditawarkan berkisar Rp15 ribu hingga Rp40 ribu per ons, tergantung jenisnya.
“Bagi sebagian penikmat kopi tradisional, nilai sebuah kopi tidak semata-mata ditentukan oleh harga, melainkan oleh rasa yang dihasilkan setelah biji kopi melewati proses panjang sebelum akhirnya tersaji dalam secangkir minuman,” ucapnya.
Sementara salah seorang pembeli, Leni Marlena, menyampaikan, cita rasa kopi lokal menjadi alasan dirinya memilih kopi tersebut untuk dikonsumsi sehari-hari.
“Saya selaku pencinta kopi mencari kopi lokal atau kopi dusun, karena sangat cocok untuk dikonsumsi sehari-hari bersama keluarga di rumah maupun untuk oleh-oleh khas Bengkulu,” tutur Leni.
Lebih lanjut dia menambahkan, di tengah hadirnya berbagai tren kopi modern, cita rasa kopi yang kuat dan proses pengolahan yang diwariskan antargenerasi menjadi bagian dari kekayaan kuliner local perlu dipertahankan. Terlebih lagi tradisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa selera terhadap kopi tidak selalu mengikuti tren, tetapi juga tumbuh dari kebiasaan dan rasa yang telah akrab di lidah masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....