Tempoyak, Makanan Olahan Durian yang Tetap Dicari Masyarakat Bengkulu

  • 18 Agt 2026 10:49 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Aroma khas durian yang menyengat biasanya menjadi penanda datangnya musim buah yang dikenal sebagai “raja buah” tersebut. Dagingnya yang lembut dan manis menjadi incaran masyarakat untuk disantap langsung.

Namun, tidak semua durian memiliki rasa manis seperti yang diharapkan. Ketika sebagian buah mulai sulit terjual atau kualitas rasanya kurang sesuai, daging durian justru dapat disulap menjadi olahan khas Bengkulu yang memiliki nilai jual, yakni tempoyak.

Untuk pembuatan tempuyak sendiri, diawali dengan memisahkan daging durian dari bijinya, Kemudian dibungkus rapat menggunakan plastik dan disimpan di pendingin selama satu hingga dua hari untuk proses fermentasi.

Sedangkan produk olahan khas Bengkulu ini dipasarkan dengan dijual seharga Rp80.000 per kilogram. Dimana harga itu cenderung lebih stabil dan minim risiko rugi dibandingkan jualan durian yang segar seharga Rp30.000 hingga Rp50.000 per buah.

Sementara target pasar utamanya kalangan ibu-ibu dan orang tua yang menggemari olahan khas Bengkulu ini sebagai bahan masakan harian.

Salah seorang penjual Tempuyak Elvina mengatakan, bahwa bahan baku durian ini di dapatkan langsung dari kebun warga, dengan cara diantarkan ke tempatnya.

"Tempoyak ini bisa bertahan hingga berbulan-bulan jika disimpan dalam pendingin. Tetapi kalau di luar, paling hanya tahan seminggu karena rasanya akan menjadi makin asam," ujarnya pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Sebagai pedagang menurutnya, mengolah durian menjadi tempoyak bukan sekadar mempertahankan makanan tradisional, tetapi juga menjadi strategi untuk mengurangi risiko kerugian. Dimana buah yang tidak habis terjual atau memiliki rasa yang kurang manis masih dapat dimanfaatkan dan menghasilkan produk baru yang tetap diminati masyarakat.

“Penjualan tempoyak juga dinilai memberikan hasil yang optimal, terutama ketika musim durian berlangsung dan harga buah meningkat. Alhamdulillah dari tempoyak, meski hari biasa sepi, namun pada akhir-akhir pecan, saya mampu bertahan dan memberikan nilai ekonomi tambahan bagi pemenuhan kebutuhan keluarga,” tuturnya.

Sementara salah seorang pembeli, Selvia mengaku sengaja memburu salah satu makanan tradisional khas Bengkulu ini, karena disukai masyarakat mulai orang tua hingga anak kos, juga memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi keautentikan rasa fermentasi durian menjadi alasan utama produk ini tetap dicari untuk dijadikan bahan masakan sehari-hari.

“Saya sering membeli tempoyak karena sangat menyukai tempoyak. Mengingat rasanya sangat otentik dibandingkan olahan lainnya. Hanya saja saat memilih tempoyak, saya biasanya memperhatikan segi warna, aroma, hingga rasanya," ujar Selvia.

Penulis : Heta Meilika Mahasiswa Magang UMB

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....