Penguatan Penyuluh KB Berperspektif Gender, BKKBN Gandeng KAPAL Perempuan

  • 21 Agt 2026 16:12 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu — Penyuluh program Keluarga Berencana (KB) tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan informasi tentang pengaturan jarak kehamilan dan kelahiran. Lebih dari itu, penyuluh sebagai insan edukator dituntut mampu mendorong perubahan pola pikir, perilaku, serta relasi yang lebih setara di dalam keluarga.

Atas kebutuhan tersebut, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu menggandeng organisasi perempuan KAPAL Perempuan untuk memperkuat kapasitas penyuluh KB melalui Pelatihan Penguatan Kapasitas bagi PKB/PLKB untuk Pembangunan Keluarga yang Transformatif Gender. Kegiatan ini diarahkan agar penyuluh memiliki perspektif gender dalam menjalankan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat.

Pelatihan digelar selama tiga hari, 19-21 Agustus 2026, di Kantor BKKBN Provinsi Bengkulu dengan melibatkan 25 PKB/PLKB dari sejumlah kabupaten dan kota. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat peran PKB/PLKB sebagai ujung tombak program Bangga Kencana, terutama dalam menjangkau masyarakat di kawasan pesisir dan wilayah dengan tantangan akses pelayanan pembangunan keluarga.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memiliki tugas dalam bidang kependudukan, pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, serta program keluarga berencana. Sementara itu, KAPAL Perempuan merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan kepemimpinan dan pemberdayaan perempuan, khususnya perempuan dari komunitas miskin dan terpinggirkan.

Kolaborasi BKKBN Provinsi Bengkulu dan Kapal Perempuan memiliki fokus pada peningkatan kualitas keluarga, perlindungan sosial, serta pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput. Kerja sama ini diharapkan meningkatkan kapasitas PKB/PLKB dalam memahami dan menerapkan perspektif gender untuk menjawab tantangan pembangunan keluarga yang semakin kompleks.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid mengatakan, BKKBN terus mendorong isu kesetaraan gender melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Kelas Ayah Idaman (AMAN), dan program kesehatan reproduksi. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan program Kapal Perempuan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"BKKBN bersama Kapal Perempuan memiliki visi yang sama dalam pembangunan keluarga dan kependudukan, termasuk terkait fertilitas, mortalitas, serta mobilitas penduduk," kata Zamhir saat membuka Pelatihan Peningkatan Kapasitas bagi PKB/PLKB untuk Pembangunan Keluarga yang Transformatif Gender, Rabu 19 Agustus 2026. Ia menyebut program GATI, AMAN, dan kesehatan reproduksi dapat berkontribusi dalam menekan berbagai persoalan kependudukan dan kesehatan keluarga.

Zamhir menjelaskan, melalui program tersebut BKKBN mendorong peningkatan usia kawin pertama, pencegahan kehamilan tidak diinginkan, serta penurunan angka kematian ibu dan bayi. Ia juga menyebut angka kelahiran spesifik pada perempuan usia 15-19 tahun di Provinsi Bengkulu saat ini berada pada angka 31 per 1.000 perempuan, turun dibandingkan periode sensus penduduk sebelumnya sebesar 38,17 berdasarkan data BPS.

Ia menambahkan, program GATI dan AMAN dikembangkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak sekaligus mendukung kebijakan pemerintah dalam mencegah perkawinan usia anak. Melalui penerapan delapan fungsi keluarga, Kemendukbangga/BKKBN juga mendorong orang tua dan anak membangun keluarga yang mampu membentuk generasi kuat, cerdas, dan terhindar dari berbagai persoalan sosial.

Menurut Zamhir, upaya menekan angka kematian ibu dan bayi juga membutuhkan keterlibatan ayah atau suami dalam mendampingi istri memilih kontrasepsi pascapersalinan serta terlibat dalam pengasuhan anak. Peran tersebut diperkuat melalui program "Ayah Wajib Hadir", termasuk keterlibatan ayah dalam mengantar anak pada hari pertama sekolah.

Melalui pelatihan ini, kapasitas PKB/PLKB diperkuat agar mampu melakukan pendampingan, komunikasi, edukasi, dan advokasi program Bangga Kencana secara lebih efektif. Kehadiran Kapal Perempuan juga menjadi bagian dari penguatan kolaborasi untuk memperluas akses pengetahuan dan layanan pembangunan keluarga, khususnya bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses.

Direktur Kapal Perempuan Budhis Utami, M.Hum mengatakan, organisasinya memiliki visi membangun kesetaraan gender yang sejalan dengan upaya BKKBN meningkatkan median usia kawin pertama. "Kita berkomitmen terus membangun dan menyosialisasikan isu ini, termasuk batas usia kawin pertama pada usia 21-25 tahun," kata Budhis.

Menurut Budhis, kolaborasi tersebut diarahkan untuk bersama-sama membangun keluarga Indonesia dengan menghadirkan isu kesetaraan gender di dalam keluarga. Ia menilai perspektif tersebut dapat membantu mempercepat pembangunan kualitas sumber daya manusia sekaligus membuat tenaga penyuluh semakin edukatif dalam mendampingi masyarakat.

Ketua IPeKB Daerah Provinsi Bengkulu Helmi Suanda, S.Sos mengatakan, penguatan kapasitas penyuluh KB bertujuan meningkatkan kemampuan PKB/PLKB dalam memahami dan menerapkan pendekatan gender transformatif dalam pembangunan keluarga. Dengan demikian, tenaga penyuluh Bangga Kencana diharapkan mampu menjadi agen perubahan sosial di tingkat keluarga dan masyarakat.

Helmi menyebut, terdapat sejumlah tujuan penting dalam penguatan kapasitas penyuluh bersama Kapal Perempuan, antara lain meningkatkan pemahaman mengenai gender, kesetaraan gender, dan pembangunan keluarga yang transformatif gender. Penyuluh juga diharapkan mampu mengidentifikasi persoalan dan ketimpangan gender di tingkat keluarga maupun masyarakat.

Selain itu, penyuluh diharapkan mampu mengintegrasikan perspektif gender dalam pelaksanaan penyuluhan dan pendampingan keluarga. Mereka juga didorong mengembangkan pendekatan komunikasi yang lebih partisipatif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan laki-laki maupun perempuan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....