Pedagang Tempe dan Tahu Berharap Harga Kedelai Selalu Stabil

  • 14 Sep 2026 05:03 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu Utara - Setelah sempat menyentuh harga Rp11.200 per kilogram pada akhir Juni kemarin. Harga kedelai impor di Kabupaten Bengkulu Utara kini berada di kisaran Rp10.800 per kilogram.

Harga tersebut memang belum menembus harga acuan penjualan atau HAP yang ditetapkan badan pangan nasional yaitu Rp11.400 rupiah per kilogram. Namun, pergerakan harga yang cenderung naik turun dalam waktu singkat mulai menjadi perhatian pelaku usaha.

Seperti yang diungkapkan oleh Susanto, salah seorang pengrajin tahu dan tempe di Kecamatan Kota Arga Makmur, harga kedelai yang berubah-ubah tetap memberikan tekanan terhadap usaha. Sebagai industri kecil dengan modal terbatas, setiap perubahan harga bahan baku akan berdampak langsung terhadap perhitungan biaya produksi.

Terlebih, harga produk tahu dan tempe tidak selalu bisa langsung disesuaikan mengikuti kenaikan bahan baku. Kondisi inilah yang membuat pengrajin tidak hanya memperhatikan seberapa tinggi harga kedelai, namun juga seberapa stabil harganya.

"Harga kedelai satu kilogramnya saat ini turun ya, sebelumnya di akhir bulan Juni harganya Rp11.200 sekarang turun jadi Rp10.8000. Sekarang ini memang harga kedelai itu naik turun," ujar pengrajin tahu dan tempe kepada RRI Sabtu 12 September 2026.

Susanto berharap pemerintah dapat mengantisipasi fluktuasi harga kedelai, sehingga risiko dan ketidakpastian bagi industri olahan pangan skala kecil dapat ditekan. Menurutnya meski harga saat ini masih berada di bawah HAP pengrajin tetap perlu mewaspadai perubahan harga yang terjadi secara cepat.

Meski harga kedai saat ini masih berada di bawah harga acuan penjualan. Bagi pengrajin tahu dan tempe harga tersebut belum bisa menghilangkan rasa kekhawatiran.

Sebab, yang dibutuhkan pelaku usaha bukan hanya harga yang rendah, tetapi juga pasokan dan harga bahan baku yang lebih stabil. Dengan begitu industri tahu dan tempe skala kecil dapat terus berproduksi tanpa dibayang-bayangi ketidakpastian biaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....