Berikut Penyakit Hewan Ternak yang Menyebabkan Kerugian

  • 11 Agt 2026 21:23 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID,Bengkulu - Penyakit hewan ternak menjadi salah satu ancaman serius bagi keberlangsungan usaha peternakan di Indonesia. Selain dapat menyebabkan kematian dan menurunkan produktivitas ternak, penyakit menular juga berpotensi mengganggu perdagangan serta distribusi hewan dan produk asal hewan.

Kementerian Pertanian memasukkan penyakit yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan kematian hewan tinggi ke dalam kategori Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Melansir dari laman resmi Kementerian Pertanian penyakit ini menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. PMK memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan dapat menyebabkan penurunan produksi serta menghambat lalu lintas dan perdagangan hewan maupun produk hewan.

Penyakit lainnya adalah Lumpy Skin Disease (LSD) yang terutama menyerang sapi dan kerbau. Penyakit ini dapat menurunkan produktivitas ternak dan berpotensi mengganggu pendapatan peternak.

Pada peternakan babi, African Swine Fever (ASF) juga menjadi ancaman besar. Kementerian Pertanian menyebut ASF merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian hingga 100 persen pada babi.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak. Terutama ketika penyakit menyebar di wilayah dengan populasi babi yang tinggi.

Selain itu, merangkum dari laman resmi DJP Kesehatan Hewan terdapat Avian Influenza (AI) atau flu burung yang menyerang unggas. Penyakit ini menjadi perhatian pemerintah karena dapat berdampak terhadap populasi dan produktivitas unggas serta ketahanan pangan.

Penyakit lain yang juga perlu diwaspadai antara lain anthrax, brucellosis, penyakit Jembrana, septicemia epizootica (SE), dan rabies. Kementerian Pertanian menyebut bahwa pengendalian penyakit tersebut penting karena selain dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak, beberapa penyakit juga memiliki risiko terhadap kesehatan masyarakat.

Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, peternak perlu meningkatkan biosekuriti, vaksinasi, pemeriksaan kesehatan, dan pelaporan kasus secara cepat. Pencegahan harus menjadi prioritas dan setiap kasus harus segera ditemukan serta dikendalikan agar tidak meluas.

Dengan langkah pencegahan dan pengawasan yang dilakukan secara konsisten oleh peternak dan juga dinas terkait di Daerah. Kesehatan ternak dapat terjaga, produktivitas peternakan tetap stabil, dan kerugian ekonomi bagi peternak dapat ditekan.

Sumber :

Kementerian Pertanian

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....