Kulit Lantung jadi Solusi Masa Depan Kebutuhan Serat Industri

  • 28 Jul 2026 09:41 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Potensi serat lantung (Artocarpus elasticus) sebagai bahan penguat material komposit ramah lingkungan menjadi sorotan dalam orasi ilmiah Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Komposit Fakultas Teknik Universitas Bengkulu (Unib), Prof. Dr. Ir. Hendri Hestiawan, ST., MT. Menurutnya, tanaman yang selama ini dikenal sebagai bahan baku kerajinan tradisional memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi material teknik bernilai tinggi.

Dalam hasil penelitian yang disampaikannya saat orasi ilmiah, 23 Juli 2026 lalu, Prof. Hendri menjelaskan bahwa serat lantung merupakan sumber daya lokal Bengkulu yang memiliki kandungan selulosa tinggi sehingga berpotensi menghasilkan kekuatan mekanik yang baik. Keunggulan lainnya adalah kulit batang pohon dapat dipanen tanpa harus menebang tanaman, sehingga menjadikannya sumber bahan baku yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Prof. Hendri mengatakan pemanfaatan serat lantung merupakan salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap material sintetis berbasis minyak bumi yang memiliki jejak karbon tinggi. Pengembangan serat alam sebagai material komposit juga dinilai sejalan dengan kebutuhan industri global akan bahan yang ringan, kuat, dan lebih ramah terhadap lingkungan.

Melalui penelitian yang telah dilakukan selama hampir dua dekade, tim peneliti Fakultas Teknik Unib mengembangkan berbagai metode untuk meningkatkan kualitas serat lantung sebagai bahan penguat komposit. Salah satu metode yang digunakan adalah perlakuan alkali menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) guna membersihkan permukaan serat dan memperkuat ikatannya dengan matriks polimer.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan NaOH mampu meningkatkan kualitas struktur serat lantung secara signifikan. Pengujian laboratorium membuktikan bahwa perlakuan NaOH berkonsentrasi 4 persen selama dua jam menghasilkan kekuatan tarik dan lentur terbaik, sedangkan konsentrasi 6 persen selama satu jam memberikan ketahanan benturan yang paling optimal.

Menurut Prof. Hendri, keberhasilan penelitian tersebut membuka peluang pemanfaatan serat lantung pada berbagai sektor industri, terutama otomotif dan transportasi yang membutuhkan material ringan dengan kekuatan tinggi. Selain mendukung pengembangan industri hijau, inovasi ini juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal Bengkulu melalui hilirisasi hasil penelitian.

Menutup orasinya, Prof. Hendri mengajak sivitas akademika, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan material komposit berbasis serat alam. Ia meyakini bahwa potensi serat lantung dapat menjadi contoh bagaimana kekayaan hayati daerah mampu diolah melalui riset menjadi inovasi teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan memperkuat daya saing industri nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....