Wamen Luar Negeri Dorong Unib jadi Pusat Kajian Samudra Hindia

  • 12 Mei 2026 19:33 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, mendorong Universitas Bengkulu untuk membentuk pusat kajian khusus Samudera Hindia sebagai langkah strategis memperkuat riset dan diplomasi maritim. Gagasan tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum di Gedung Layanan Terpadu Unib dalam rangka Dies Natalis ke-44 Fakultas Hukum, Selasa, 12 Mei 2026.

Dalam pemaparannya, Arif Havas Oegroseno menegaskan bahwa Samudera Hindia kini menjadi salah satu kawasan paling penting dalam percaturan geopolitik dunia. Jalur laut tersebut dinilai memiliki peran vital karena menjadi lintasan utama perdagangan internasional dan distribusi energi global.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan posisi geografisnya sebagai negara kepulauan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Potensi tersebut mencakup sektor perikanan, energi laut, pelabuhan strategis, hingga pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Menurutnya, kekuatan Indonesia dalam mengelola wilayah maritim juga didukung oleh kerangka hukum internasional melalui UNCLOS 1982. Konvensi tersebut memberikan pengakuan terhadap konsep negara kepulauan sekaligus memperkuat hak berdaulat Indonesia atas wilayah laut dan Zona Ekonomi Eksklusif.

Selain peluang besar, Arif Havas Oegroseno mengingatkan adanya berbagai tantangan yang harus dihadapi di kawasan Samudera Hindia. Ancaman seperti illegal fishing, rivalitas geopolitik antarnegara, serta dampak perubahan iklim membutuhkan kerja sama global dan penegakan hukum yang kuat.

Melihat posisi strategis Bengkulu yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, ia mengusulkan pembentukan Bengkulu Indian Ocean Cluster atau BIOC di lingkungan Unib. Pusat kajian tersebut dirancang melibatkan berbagai disiplin ilmu mulai dari hukum laut, ekonomi biru, teknologi maritim, hingga mitigasi bencana dan kesehatan pesisir.

Pihak Fakultas Hukum Unib menyambut baik usulan tersebut dan menilai kuliah umum ini menjadi momentum penting penguatan agenda akademik kampus. Kehadiran pusat kajian Samudera Hindia diharapkan mampu menjadikan Unib sebagai salah satu rujukan pengembangan studi maritim di kawasan barat Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....