KKI Warsi: Hutan Tersisa Jadi Benteng Terakhir Hadapi Krisis Iklim
- 11 Mar 2026 23:33 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Awal tahun 2026, Bengkulu diterpa banjir di berbagai wilayah seperti Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kepahiang. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengapa banjir terjadi semakin sering disertai angin kencang yang menumbangkan pohon hingga baliho.
Menurut BMKG, cuaca ekstrem ini dipicu oleh aktivitas tiga bibit siklon tropis di Samudra Hindia termasuk bibit siklon 90S. Di sisi lain, BMKG menyatakan bahwa musim kemarau diprediksi datang lebih cepat yakni mulai April 2026 yang akan terasa lebih kering.
Perubahan iklim kini menjadi kenyataan yang tidak dapat dielakkan dan dampaknya terasa semakin dekat sehingga mendesak kita untuk beradaptasi. Siklon tropis memang tidak dapat dikendalikan, tetapi dampak kerusakan yang ditimbulkannya masih bisa diantisipasi melalui perlindungan alam.
Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, menegaskan bahwa hutan memiliki peran penting dalam menghadapi dampak krisis iklim yang kian nyata. “Hutan merupakan tameng alami yang melindungi masyarakat dari berbagai risiko bencana ekologis,” ujar Adi Junedi pada Rabu, 11 Maret 2026.
Sayangnya, keberadaan hutan saat ini menghadapi berbagai ancaman seperti perambahan, kebakaran, serta alih fungsi kawasan menjadi kebun sawit. “Namun tameng tersebut kini semakin rapuh akibat perambahan dan alih fungsi lahan,” kata Adi Junedi.
Berdasarkan analisis citra satelit KKI Warsi, awal tahun 2026 tercatat sebaran 67 titik api di berbagai kabupaten dan kota di Bengkulu. Data ini menjadi peringatan bahwa pada musim kemarau 2026 potensi kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi secara serius.
KKI Warsi bersama para pemangku kepentingan melakukan berbagai upaya penguatan mitigasi melalui pembentukan kelompok masyarakat patroli hutan. Upaya ini mencakup fasilitasi perhutanan sosial di enam desa serta penguatan tata kelola hutan yang lestari di tingkat daerah.
Program ini juga mendorong pendekatan ekonomi konservasi melalui pemberian insentif bagi masyarakat yang menjaga hutan serta penanaman mangrove. Momentum Ramadan 2026 yang hadir saat ini juga menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah dalam menjaga bumi.
Menjaga hutan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak mulai dari masyarakat desa hingga dunia usaha. “Dengan kolaborasi berbagai pihak, Bengkulu diharapkan mampu membangun ketahanan ekologis melalui pengelolaan hutan yang lestari,” tutur Adi Junedi.
Menjaga hutan berarti menjaga sumber air, menjaga pangan, serta menjaga masa depan generasi yang akan datang. Langkah sederhana seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi langkah nyata untuk melindungi lingkungan kita bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....