Elephant Camp 2026: Seruan Penyelamatan Gajah Sumatera dari Bentang Seblat
- 17 Agt 2026 15:49 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu Utara - Koalisi Bentang Seblat bersama elemen pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu menggelar kegiatan Elephant Camp 2026 di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara pada 15 hingga 17 Agustus 2026. Agenda bertema #GajahKita yang bertepatan dengan HUT ke-81 RI ini menjadi sarana menyerukan perlindungan bagi gajah Sumatera yang kian terancam kepunahan lokal.
Puncak acara ditandai dengan upacara bendera bersama delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat serta pembentukan formasi khusus oleh para peserta. Aksi simbolis ini membawa pesan kuat bahwa kelestarian gajah khususnya di Bentang Alam Seblat yang menjadi habitat hidupnya merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat Bengkulu.
Kondisi habitat satwa dilindungi tersebut saat ini dinilai sangat kritis akibat maraknya aloh fungsi hutan dan aksi pembunuhan beracun. “Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor, fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,” ujar Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar.
Penyusutan kawasan inti Bentang Seblat seluas 30.017 hektare menjadi perkebunan kelapa sawit memperparah konflik serta memutus jalur jelajah alami gajah. Tragedi terbaru dicatat pada akhir April 2026 saat induk dan anak gajah ditemukan tewas akibat racun di dalam tubuh mereka.
“Hasil uji laboratorium sudah keluar dan gajah mati itu diracun, bisa jadi termakan racun. Artinya ada racun di tubuhnya, ada senyawa kimia. Ini mengindikasikan adanya sengketa antara kawanan gajah dengan kelompok petani yang terdesak dan dimanfaatkan dengan kelompok tertentu,” kata Ali.
Guna menyelamatkan kantong populasi tersisa, koalisi mendesak Kementerian Kehutanan menaikkan status fungsi kawasan Hutan Produksi menjadi Suaka Margasatwa seluas 80 ribu hektare. “Kita ingin status ini satu tingkat di atas level kawasan lindung, dalam hal merupakan kawasan konservasi dengan usulan peningkatan status pengelolaan kawasan yang merupakan kantong gajah ini,” ucap Ali.
Pihak otoritas konservasi membenarkan bahwa ancaman konversi tutupan hutan memang menjadi tantangan terberat kelangsungan hidup gajah Bengkulu saat ini. “Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah,” kata Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho.
Gajah memiliki peran ekologis vital sebagai agen penyebar benih tanaman demi menjaga kelestarian serta regenerasi vegetasi hutan alami. Koordinator PLG Seblat Bengkulu, Johansyah, mengapresiasi dukungan publik ini dan menyatakan, “Para peserta bisa berinteraksi secara langsung dan menjadi sarana edukasi tentang gajah Sumatera di Bengkulu," tuturnya.
Rangkaian susur hutan dan interaksi langsung dengan gajah binaan memberikan wawasan baru bagi para peserta mengenai pentingnya menjaga benteng pertahanan ekosistem terakhir di Bengkulu. “Ini menjadi pengalaman berharga. Kegiatan ini semakin menyadarkan kita bahwa keberadaan gajah sangat penting dan mereka berhak mendapatkan ruang hidup yang aman,” kata salah satu peserta, Pinka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....