Aroma Lemang Hangatkan Ramadan di Bengkulu

  • 06 Mar 2026 20:43 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Di Jalan Sungai Rupat, Kota Bengkulu, aroma santan dan ketan yang dibakar perlahan menyambut siapa saja yang melintas. Di sudut jalan itu, Eti, seorang pedagang lemang tampak tekun menjaga bara api agar lemang matang sempurna.

Baginya, bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang lebih ramai, hangat, dan penuh harapan. Sudah enam tahun Eti berjualan lemang, makanan tradisional yang tetap memiliki tempat di hati masyarakat Bengkulu. Pengalaman itu membuatnya memahami selera pelanggan yang terus mencari cita rasa khas yang konsisten dari waktu ke waktu.

Ia menjelaskan, lemang dibuat dari bahan sederhana seperti ketan, santan kelapa, ketan Thailand, tape ketan, dan daun pisang yang memperkaya aroma saat dibakar perlahan. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan agar tekstur dan rasa tetap terjaga.

Adonan ketan yang telah dicampur santan dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang. Lapisan ini mencegah lengket sekaligus memberi aroma khas saat lemang dipanggang di atas bara api hingga matang merata.

Setiap batang lemang dijual seharga Rp10 ribu, sementara tape sebagai pendamping dibanderol Rp5 ribu per gelas. Harga tersebut dinilai masih terjangkau bagi pelanggan yang menjadikannya menu favorit saat berbuka puasa.

“Lemang ini bahannya sederhana, ada daun pisang, ketan, santan, sampai tape ketan. Harganya sepuluh ribu per lemang, dan tape pendampingnya lima ribu per gelas,” ujarnya, 6 Maret 2026.

Menurut Eti, sebagian besar pelanggannya merupakan warga berusia lanjut yang sudah akrab dengan cita rasa lemang. Pesanan biasanya mulai berdatangan sejak siang hari sebagai persiapan berbuka puasa, bahkan tetap dicari saat puasa sunnah Senin-Kamis.

“Di luar Ramadan pembeli tetap ada, meski tidak selalu ramai setiap hari. Banyak yang beli lemang untuk oleh-oleh, bahkan ada pelanggan dari luar daerah seperti Kalimantan, Jakarta, dan Jambi,” ujar Eti.

Di tengah aktivitas jual beli, lemang juga menjadi bagian dari cerita kebersamaan pelanggan. Salah seorang penikmat lemang mengaku makanan tradisional ini selalu mengingatkannya pada momen Ramadan bersama keluarga.

“Buat saya, Ramadan rasanya kurang lengkap tanpa lemang, apalagi paling nikmat dimakan hangat saat berbuka puasa. Makan lemang setelah tarawih juga punya sensasi sendiri karena bisa dinikmati lebih santai sambil ngobrol bareng keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan, kenangan membeli lemang sejak kecil menjelang magrib masih terasa hingga kini. Menurutnya, lemang bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang mempererat suasana Ramadan.

Ramadan pun menjadi pengingat bahwa tradisi sederhana seperti menikmati lemang mampu menghadirkan kehangatan dan kebersamaan di tengah rutinitas sehari-hari. Aroma lemang yang semerbak bukan hanya menggugah selera, tetapi juga mempererat hubungan antar keluarga dan masyarakat, menjadikan bulan penuh berkah ini terasa lebih akrab, hangat, dan bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....