Tak Sekadar Angka, Ini Cerita Damai dari Bengkulu

  • 02 Mar 2026 13:51 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Harmoni yang Tumbuh di Tanah Merah Putih menjaga cahaya kerukunan. Catatan indek kerukunan mungkin hanya deretan bilangan, namun di baliknya, ada cerita tentang senyum, saling sapa, dan tangan-tangan yang saling menguatkan.

Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Indonesia tahun 2025 mencapai 77,89 persen—tertinggi dalam 11 tahun terakhir dan masuk kategori tinggi menurut Kementerian Agama Republik Indonesia. Angka ini meningkat dari 76,47 pada 2024, menjadi penanda bahwa toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama di negeri ini terus bertumbuh dengan konsisten.

Di sudut barat Sumatra, Provinsi Bengkulu menorehkan kisah yang tak kalah membanggakan. Berdasarkan survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama, IKUB Bengkulu pada akhir 2025 tercatat mencapai 87,89 persen—skor tertinggi sejak survei pertama kali dilakukan pada 2015. Sebuah capaian yang bukan sekadar statistik, melainkan refleksi kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bengkulu, Prof. Dr. H. Rohimin, M.Ag, menuturkan bahwa kerukunan di Bengkulu bukan sesuatu yang hadir tiba-tiba. Sejak lama, daerah ini telah menjadi rumah bagi beragam etnis dan agama. Perbedaan bukanlah jarak, melainkan jembatan.

“Provinsi Bengkulu sudah terbiasa dengan perbedaan agama dan perbedaan etnis, namun semuanya bisa hidup harmoni dan berjalan dengan baik. Kalau pun ada yang mengganggu kerukunan, itu hanya kerikil-kerikil kecil dan bisa segera ditangani,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.

Sebagai wadah dialog, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bengkulu memiliki peran penting dalam menjaga suasana tetap sejuk. Salah satu tugasnya adalah menetralisir informasi negatif atau potensi benturan yang terjadi di daerah lain agar tidak berdampak ke Bengkulu, upaya ini menjadi benteng agar isu-isu yang berpotensi memecah tidak menemukan ruang untuk tumbuh.

Ramadan, yang kerap menjadi momen refleksi spiritual, justru menghadirkan wajah toleransi yang paling nyata di Bengkulu. Saat umat Muslim menjalankan ibadah puasa, saudara-saudara dari agama lain menunjukkan penghormatan yang tulus.

Di beberapa titik, warga non-Muslim ikut membagikan takjil dan bantuan kepada umat Muslim. Di kawasan Kampung Cina, umat Buddha membagikan takjil dari rumah ke rumah. Di Kebun Tebeng, halaman gereja dibuka untuk membantu parkir jamaah Masjid Istiqomah saat salat tarawih. Saling menjaga, saling memudahkan.

Kebersamaan ini seakan menegaskan bahwa toleransi di Bengkulu bukan hanya slogan, melainkan budaya hidup. Kebanggaan juga datang dari daerah, Desa Rama Agung di Kabupaten Arga Makmur bahkan dikenal sebagai desa nomor satu nasional di bidang kerukunan, sebuah pengakuan yang lahir dari praktik nyata hidup berdampingan dalam damai.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Bengkulu, Yul Kamra, menilai tingkat toleransi di provinsi ini sangat tinggi, bahkan berada di atas rata-rata nasional. Ia mengingatkan bahwa Kota Bengkulu pernah dinobatkan sebagai kota teraman dan terukun se-Indonesia pada 2014 dan menerima piagam penghargaan dari pusat.

Menurutnya, komunikasi lintas agama selama Ramadan selalu terjalin baik. MUI mengeluarkan maklumat untuk menjaga kenyamanan ibadah puasa, sementara Forum Kerukunan Umat Beragama aktif berkoordinasi demi memastikan suasana tetap kondusif.

“Alhamdulillah, kekompakan itu nyata. Kita saling menjaga. Saudara kita dari agama lain ikut membantu, bahkan memberi fasilitas untuk jamaah. Itulah wajah Bengkulu,” ungkapnya.

Pemerintah daerah pun terus memberikan dukungan terhadap penguatan toleransi dan kerukunan ini. Sebab harmoni bukan hanya soal hubungan antarumat beragama, tetapi juga fondasi pembangunan daerah yang damai.

Angka 87,89 persen itu sejatinya adalah potret wajah-wajah yang saling percaya. Ia adalah cerita tentang perbedaan yang dirawat, tentang keyakinan yang berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.

Di Bengkulu, kerukunan bukan sekadar indeks, ia adalah napas yang menghidupi setiap sudut kota dan desa. Dan selama nilai itu dijaga bersama, setiap warga yang tinggal dan menetap di Bumi Merah Putih akan terus merasakan tentram dan damai dalam keberagaman.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....